Sebenarnya, Indonesia punya modal awal yang cukup. Di tanah air sudah ada fasilitas perakitan dan pengujian yang terintegrasi dalam rantai nilai global. Ada juga perusahaan desain integrated circuit, ditambah basis industri hilir seperti EMS, OEM, dan otomotif yang mapan.
Lihat saja data produksinya. Sektor elektronik menghasilkan 30 hingga 60 juta unit ponsel per tahun. Sementara kebutuhan laptop diproyeksikan mencapai 1,57 juta unit pada 2026. Angka yang tidak kecil.
Di jalur otomotif, produksi kendaraan bermotor pada 2025 tercatat 803.867 unit, termasuk listrik dan hybrid. Dan perlu diingat, kendaraan elektrifikasi butuh chip hingga tiga kali lipat lebih banyak dibanding mobil konvensional.
Namun begitu, ada tantangan besar yang mengintip: ketergantungan impor. Hingga November 2025, nilai impor semikonduktor Indonesia mencapai USD 4,87 miliar. Agus melihat angka ini sebagai sinyal peringatan untuk ketahanan industri nasional.
“Tingginya ketergantungan impor semikonduktor menjadi sinyal penting bagi ketahanan industri nasional. Kondisi ini perlu direspons melalui penguatan ekosistem dalam negeri, khususnya pada aspek desain chip dan pengembangan kekayaan intelektual, sebagai fondasi awal kemandirian teknologi,” imbuhnya.
Jadi, jalan sudah digariskan. Modal dasar ada. Tantangannya pun jelas. Sekarang, tinggal eksekusi dan konsistensi yang akan menentukan apakah peta jalan ini benar-benar membawa Indonesia ke tujuan.
Artikel Terkait
Tantangan Pertama Friderica Widyasari Dewi: 7 Agenda Prioritas di Pucuk Pimpinan OJK
Beras Premium Indonesia Siap Temani Jemaah Haji di Tanah Suci
Menkeu Purbaya Dorong Dana Pensiun dan Asuransi Masuk ke Saham LQ45
Rupiah Tersenyum Tipis, Tapi Modal Asing Kabur Rp12,5 Triliun