Pasar saham kita lagi heboh. IHSG sempat terjun bebas Rabu dan Kamis lalu, sampai-sampai perdagangan dihentikan sementara. Gejolak ini, ternyata, membuka lagi kotak pandora soal struktur kepemilikan saham di bursa. Intinya, terlalu banyak saham yang gak beredar bebas di tangan publik.
Pemicunya datang dari MSCI, pengelola indeks global. Mereka bilang akan tunda dulu perubahan indeks untuk Indonesia. Alasannya? Regulator di sini dinilai belum tuntas mengurus isu kepemilikan saham yang terlalu ngepus, alias terkonsentrasi. Menurut penilaian mereka, ini masalah fundamental soal investabilitas. Free float yang rendah jadi sorotan utama.
Logikanya sederhana. Kalau saham yang benar-benar bisa diperdagangkan cuma sedikit, likuiditasnya terbatas. Alhasil, harganya gampang sekali naik-turun secara drastis. Volatilitasnya tinggi.
Nah, data pasar menunjukkan fakta yang menarik. Banyak saham-saham konglomerat, yang selama ini jadi tulang punggung kapitalisasi pasar, punya free float di bawah 15 persen. Bahkan ada yang cuma sekitar 7,5 persen. Tim Riset IDXChannel mencatat, setidaknya ada 47 emiten yang terafiliasi dengan kelompok konglomerasi besar yang masuk kategori ini.
Deretan perusahaannya tersebar di berbagai grup usaha ternama. Ambil contoh Grup Lippo. Beberapa emitennya seperti Multipolar Technology, Lippo Cikarang, sampai Siloam Hospitals, punya free float di bawah 10 persen. Grup Salim juga punya beberapa, sebut saja Indomobil Sukses Internasional dan Nippon Indosari Corpindo.
Di sisi lain, Grup Sinarmas punya saham seperti Golden Energy Mines dan Sinar Mas Agro Resources dengan free float satu digit. Kelompok Barito milik Prajogo Pangestu tak ketinggalan, dengan Barito Renewables dan Chandra Asri Pacific. Belum lagi Grup Djarum, Panin, dan Bakrie masing-masing punya lebih dari satu emiten dengan kepemilikan publik yang terbatas.
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Dorong Dana Pensiun dan Asuransi Masuk ke Saham LQ45
Rupiah Tersenyum Tipis, Tapi Modal Asing Kabur Rp12,5 Triliun
Shutdown AS Kembali Terjadi, Tapi Dampaknya Tak Separah Sebelumnya
Prabowo di Davos: Dari Kestabilan Ekonomi hingga Prabowonomics