Di sisi lain, koordinasi dengan Bank Indonesia menjadi kunci lain yang dia tekankan. Menurutnya, sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter harus berjalan baik. Tapi dia buru-buru menegaskan, ini soal koordinasi, bukan intervensi.
"Upayanya ya fiskal dibelanjakan dengan cepat di awal tahun dan mulai jalan. Terus kami sinkron kebijakan moneter lebih baik. Dengan moneter ya, bukan saya intervensi ya," tuturnya.
Momentum menuju target itu sebenarnya sudah terlihat. Purbaya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 bakal berada di kisaran 5,45 persen. Angka itu akan membawa rata-rata pertumbuhan sepanjang tahun 2025 mendekati 5,2 persen. Kita tunggu saja rilis resmi dari BPS pada Kamis, 5 Februari nanti.
Untuk menjaga laju di tahun 2026, strateginya adalah membenahi regulasi. Purbaya berjanji akan menyisir peraturan-peraturan yang selama ini dianggap memberatkan atau menghambat dunia usaha. Ini langkah penting untuk memulihkan kepercayaan investor, baik dari dalam maupun luar negeri.
"Nanti peraturan-peraturan yang mengganggu kita akan deteksi dan kita akan perbaiki secepatnya. Jadi itu saja sudah cukup untuk tumbuh 6 persen atau lebih," tegasnya.
Intinya, pemerintah berharap kombinasi antara reformasi regulasi dan kerja sama antar-lembaga yang solid bisa menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif. Kalau semua berjalan sesuai rencana, bukan mustahil target yang ambisius itu benar-benar tercapai. Dan siapa tahu, Purbaya benar-benar dapat "hadiah" dari presiden nanti.
Artikel Terkait
BEI Buka Suara: Saham Gorengan Bukan Soal Jenis, Tapi Aksi Manipulasi
Medela Potentia Pacu Ekspansi Digital, Genjot Akses Kesehatan Lewat GoApotik
Tantangan Pertama Friderica Widyasari Dewi: 7 Agenda Prioritas di Pucuk Pimpinan OJK
Beras Premium Indonesia Siap Temani Jemaah Haji di Tanah Suci