Pekan lalu, pasar saham kita diguncang badai. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) benar-benar terpuruk, ditutup di level 8.329,606. Angka itu mencatatkan penurunan tajam, 7,37 persen dari posisi pekan sebelumnya yang masih bertengger di 8.951,010.
Hebohnya, keruntuhan itu terjadi sangat cepat. Rabu (28/1) lalu, IHSG sempat terjun bebas hingga 8 persen, menyentuh level 8.261,7. Situasi itu memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah darurat: trading halt, atau pembekuan perdagangan sementara. Tapi ternyata, itu belum berakhir. Esok harinya, Kamis (29/1), indeks kembali ambles 8 persen ke posisi yang lebih dalam, 7.654,66.
Kautsar Primadi Nurahmad, Sekretaris Perusahaan BEI, membeberkan dampaknya. Kapitalisasi pasar BEI ikut merosot 7,37 persen, menyusut dari Rp 16.244 triliun menjadi Rp 15.046 triliun. Namun begitu, ada satu hal yang justru bergerak naik.
“Rata-rata frekuensi transaksi harian turut mengalami peningkatan sebesar 1,59 persen menjadi 3,82 juta kali transaksi, dari 3,76 juta kali transaksi pada pekan lalu,” jelas Kautsar dalam keterangannya, Sabtu (24/1).
Di sisi lain, nilai transaksi harian justru melonjak signifikan. Rata-ratanya naik 29,28 persen menjadi Rp 43,76 triliun, dari sebelumnya Rp 33,85 triliun.
“Volume transaksi harian Bursa pada pekan ini mengalami perubahan yaitu sebesar 3,69% menjadi 63,3 miliar lembar saham, dari 65,73 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya,” lanjut Kautsar.
Lalu, bagaimana dengan investor asing? Catatannya cukup mencengangkan. Mereka mencatatkan jual bersih Rp 1,53 triliun hanya dalam sehari. Dan sepanjang tahun 2026 ini, akumulasi jual bersih mereka sudah mencapai Rp 9,88 triliun. Tekanan jual dari luar negeri jelas memberi andil besar dalam gejolak pekan lalu.
Drama pekan itu mencapai puncaknya di hari Jumat, 30 Januari. Setelah dua hari trading halt yang mencemaskan, suasana di Gedung BEI tebal dengan ketegangan. Saat IHSG mulai menunjukkan secercah harapan dengan menguat 1,77 persen ke level 8.377,92, sebuah pengumuman mengejutkan justru disampaikan.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, tampil dan menyatakan pengunduran dirinya.
“Walaupun kondisi kita pagi hari ini membaik. Saya ingin menyampaikan statement, dan ini tidak ada tanya-jawab, bahwa saya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin menyatakan mengundurkan diri sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia,” ujar Iman tegas.
Pengunduran diri yang langsung berlaku itu seperti sebuah klimaks. Sebuah pekan yang penuh angka merah dan gejolak, ditutup dengan sebuah keputusan personal yang menggema di seluruh lantai bursa.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020