Gejolak pasar yang memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan perdagangan dua hari berturut-turut ternyata berujung pada langkah drastis. Iman Rachman memutuskan mundur dari posisi Direktur Utama. Bagi banyak pengamat, ini bukan sekadar pergantian orang, melainkan sinyal serius bahwa ada yang perlu dibenahi di tubuh otoritas bursa.
Hendra Wardana, seorang pengamat pasar modal, melihat kaitan yang erat antara pengunduran diri itu dengan merosotnya kepercayaan investor. Volatilitas ekstrem yang menghantam IHSG belakangan ini, menurutnya, memperlihatkan betapa rapuhnya sentimen pasar.
Baginya, trading halt dua hari berturut-turut itu sudah seperti alarm yang berbunyi nyaring. Tekanan pasar jelas mencapai level yang mengkhawatirkan.
Di sisi lain, Hendra memandang langkah Iman ini bisa dilihat sebagai bentuk tanggung jawab. Sekaligus, momen ini jadi peluang untuk pembenahan. Saat ini, pelaku pasar cenderung menunggu dan melihat. Mereka butuh kejelasan, terutama soal siapa yang akan memimpin BEI ke depan.
Menurutnya, figur pemimpin baru itu harus tangguh. Harus bisa menjawab tuntutan global, termasuk dari lembaga indeks besar seperti MSCI yang kerap menyoroti isu free float dan likuiditas di pasar kita.
Artikel Terkait
2026: Titik Balik Laba Perbankan Nasional, Tapi Jalan Masih Berliku
IHSG Anjlok, Direktur Utama BEI Iman Rachman Mengundurkan Diri
IHSG Melaju Sendiri, Tembus 8.329 di Tengah Gejolak
Di Tengah Gejolak Pasar, Iman Rachman Lepas Jabatan Puncak BEI