Gejolak pasar yang memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan perdagangan dua hari berturut-turut ternyata berujung pada langkah drastis. Iman Rachman memutuskan mundur dari posisi Direktur Utama. Bagi banyak pengamat, ini bukan sekadar pergantian orang, melainkan sinyal serius bahwa ada yang perlu dibenahi di tubuh otoritas bursa.
Hendra Wardana, seorang pengamat pasar modal, melihat kaitan yang erat antara pengunduran diri itu dengan merosotnya kepercayaan investor. Volatilitas ekstrem yang menghantam IHSG belakangan ini, menurutnya, memperlihatkan betapa rapuhnya sentimen pasar.
“Pengunduran diri pimpinan tertinggi BEI ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika pasar yang sedang bergejolak. IHSG yang dalam waktu singkat mengalami koreksi tajam menunjukkan rapuhnya kepercayaan investor, khususnya investor asing, terhadap stabilitas dan mekanisme pasar,” ujar Hendra, Jumat (30/1).
Baginya, trading halt dua hari berturut-turut itu sudah seperti alarm yang berbunyi nyaring. Tekanan pasar jelas mencapai level yang mengkhawatirkan.
“Trading halt yang terjadi dua kali berturut-turut menjadi sinyal kuat bahwa volatilitas sudah berada di level ekstrem dan membutuhkan respons kelembagaan yang serius,” katanya.
Di sisi lain, Hendra memandang langkah Iman ini bisa dilihat sebagai bentuk tanggung jawab. Sekaligus, momen ini jadi peluang untuk pembenahan. Saat ini, pelaku pasar cenderung menunggu dan melihat. Mereka butuh kejelasan, terutama soal siapa yang akan memimpin BEI ke depan.
“Investor cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu kejelasan arah kebijakan BEI ke depan, terutama terkait penunjukan Direktur Utama yang baru,” ujar Hendra.
Menurutnya, figur pemimpin baru itu harus tangguh. Harus bisa menjawab tuntutan global, termasuk dari lembaga indeks besar seperti MSCI yang kerap menyoroti isu free float dan likuiditas di pasar kita.
Untuk pergerakan IHSG? Hendra memperkirakan dalam waktu dekat masih akan fluktuatif, dengan kecenderungan melemah. Proyeksinya, indeks akan bergerak di kisaran 8.150 hingga 8.350.
Sementara itu, dari sudut pandang berbeda, Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank, punya pendapat. Ia melihat pengunduran diri ini sebagai respons atas tekanan eksternal yang sudah mengendap lama. Peringatan dari Morgan Stanley beberapa waktu lalu, katanya, adalah puncak gunung es.
“Kalau kita lihat perkembangan ini kelihatannya sebagai respon dari Dirut Bursa Efek Indonesia sebagai bentuk pertanggung jawaban dia ya terhadap apa yang dilakukan oleh Morgan Stanley pada beberapa hari yang lalu dan memang warning dari Morgan Stanley ini kan bukan mendadak ya sebenarnya jadi sudah ada warning dari sebelum-sebelumnya,” kata Gunarto.
Lalu, bagaimana dengan transisi kepemimpinan nanti? Gunarto meragukan akan ada perubahan mekanisme internal yang signifikan dalam waktu singkat.
“Kalau untuk masalah organisasi di sana ya jadi ya paling kalau ada PJS-nya (Penjabat Sementara) paling ada yang naik tapi kalau teknisnya saya nggak tahu sih,” ujarnya.
Dia juga menyoroti dinamika internal BEI sebagai organisasi yang mengatur dirinya sendiri (self regulatory organization/SRO). Menurutnya, pola pergerakan internal biasanya punya dinamikanya tersendiri.
“Karena dia kan SRO si Bursa Efek Indonesia dan kelihatannya kan ada gerbong-gerbong pemilihan atau gerbong kelompok ya setiap ada pemilihan direktur di Bursa Efek jadi ya kemungkinan kalaupun ada PJS ya masih dilingkup mereka-mereka juga,” kata Gunarto.
Jadi, suasana di pasar saham kita sedang tidak tenang. Mundurnya sang Dirut bukan akhir cerita, melainkan babak baru yang penuh ketidakpastian. Semua mata kini tertuju pada langkah BEI selanjutnya.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020