CPO Tembus Level Tertinggi Tiga Bulan, Didorong Ekspor dan Persiapan Imlek

- Kamis, 29 Januari 2026 | 15:15 WIB
CPO Tembus Level Tertinggi Tiga Bulan, Didorong Ekspor dan Persiapan Imlek

Harga minyak sawit mentah atau CPO terus merangkak naik. Ini sudah hari keempat berturut-turut, tepatnya pada Kamis (29/1/2026). Yang menarik, posisinya sekarang bertengger di level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Cukup solid.

Data pasar menunjukkan, sekitar pukul 14.30 WIB, harga CPO melonjak 1,05 persen ke angka 4.317 ringgit Malaysia per ton. Penguatan ini nggak datang tiba-tiba. Ada beberapa faktor yang mendorongnya, seperti kinerja bagus dari pasar minyak nabati di Dalian dan Chicago. Belum lagi, ringgit yang melemah dan harga minyak mentah yang terlihat kokoh turut mendongkrak selera risiko investor.

Seorang trader dari Kuala Lumpur yang dihubungi Reuters bilang, dukungan datang dari harga komoditas lain yang solid.

"Minyak mentah dan minyak kedelai di Dalian memberikan sentimen positif. Kontrak acuan sempat nyentuh level 4.315 ringgit pagi tadi, level tertinggi sejak akhir Oktober tahun lalu," jelasnya.

Ia juga menyebut, pasar masih punya harapan menunggu Price Outlook Conference di Kuala Lumpur awal Februari nanti. Acara itu selalu ditunggu untuk membaca arah harga ke depan.

Di sisi lain, data ekspor ikut memberikan angin segar. Laporan dari surveyor kargo mencatat, pengapalan pada periode 1 sampai 25 Januari naik signifikan, antara 7,97 hingga 9,97 persen dibanding bulan Desember. Lumayan.

Faktor musiman juga berperan. Persiapan menyambut Tahun Baru Imlek dan Ramadan biasanya memang mendongkrak permintaan. Ditambah lagi, produksi Januari diprediksi bakal turun tajam karena gangguan cuaca dan pola panen. Gabungan hal-hal inilah yang semakin mengokohkan prospek kenaikan.

Namun begitu, bukan berarti jalannya mulus. Ada juga hambatan. Pasar masih agak hati-hati menanti rilis data Purchasing Managers' Index (PMI) China untuk Januari. Wajar sih, mengingat negeri Tirai Bambu itu adalah pembeli utama kita. Siapa yang nggak was-was?

Ceritanya jadi lain di India. Sebagai konsumen minyak sawit terbesar di dunia, mereka justru membatalkan sejumlah pengiriman minyak kedelai dari Amerika Selatan. Penyebabnya? Pelemahan mata uang rupee dan harga global yang tinggi membuat biaya impor membengkak.

Kondisi ini malah menguntungkan CPO. Selisih harganya melebar, dan otomatis minyak sawit jadi terlihat lebih menarik di mata pembeli. Jadi, meski ada angin surut dari India, justru jadi angin peluang untuk komoditas kita.

Begitulah kondisi pasar hari ini. Naik, tapi dengan catatan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar