"Saya mengatakan MBG lebih mendesak, daripada lapangan kerja. MBG penting, lapangan kerja juga penting. Tapi MBG lebih mendesak," tegasnya.
Argumennya sederhana namun menusuk. Ia menyoroti masih banyaknya anak-anak, terutama di daerah terpencil, yang berhadapan dengan kelaparan dan gizi buruk. Dalam kondisi seperti itu, logika "beri kail, bukan ikan" dinilainya tak lagi relevan.
"Ada yang bilang tolong kasih kail, jangan ikan. Kalau dikasih kail, sudah keburu mati," kata Rachmat dengan nada prihatin.
"Cobalah lihat saudara-saudara kita di ujung pelosok desa kita. Mereka lapar."
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah mencatat kemajuan program ini. Sudah ada 58 juta penerima manfaat MBG dalam setahun lebih pelaksanaannya. Targetnya, angka itu akan melonjak jadi 82 juta orang pada akhir 2026 mendatang. Sebuah target ambisius yang, jika mengikuti logika Rachmat, memang tak bisa ditunda-tunda lagi.
Artikel Terkait
Emas Tembus Rp3 Juta, Pedagang Pasar Cikini Ungkap Rahasia Investasi yang Tak Lekang Zaman
IHSG Tergelincir 88 Poin, Sektor Transportasi Jadi Penyelamat di Tengah Banjir Merah
Sarapan Pagi di Kantor Menko Perekonomian, Para Petinggi Bahas Strategi Jaga Stabilitas
IHSG Terjun 1%, BEI Terpaksa Hentikan Perdagangan di Tengah Aksi Jual