Emas dunia benar-benar tak terbendung. Untuk kesekian kalinya dalam beberapa hari terakhir, logam mulia itu mencetak rekor baru, bahkan menembus level psikologis USD 5.400 per troy ons pada Rabu (28/1/2026). Sentimen pasar yang gamang, ditambah ketegangan geopolitik yang makin panas, membuat investor berduyun-duyun mencari aset yang dianggap aman.
Secara teknis, reli ini terlihat sangat kuat. Harga emas spot (XAU/USD) melesat 4,57 persen ke posisi USD 5.417,98. Angka itu hanya sedikit turun dari puncak sesi yang sempat menyentuh USD 5.418,96. Ingat, sehari sebelumnya pun emas sudah naik sekitar USD 200 sebuah lonjakan yang luar biasa.
Lalu, apa yang mendorong kenaikan gila-gilaan ini?
“Kenaikan ini didorong oleh pembelian berkelanjutan bank sentral, momentum kuat dari dana pengikut tren, serta permintaan flight to quality yang solid,” jelas Tony Sycamore, analis pasar dari IG.
Dia menambahkan, “Meski sifat reli yang parabolik mengindikasikan koreksi tidak jauh lagi, fundamental yang mendasari diperkirakan tetap suportif sepanjang 2026. Jadi, setiap pelemahan dipandang sebagai peluang beli yang menarik.”
Di sisi lain, situasi politik global juga memberi tekanan. Presiden AS Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan keras terhadap Iran di hari yang sama. Dia mendesak Teheran untuk segera berunding soal program nuklirnya, atau bersiap menghadapi serangan AS yang “jauh lebih buruk”. Iran tak tinggal diam, mereka langsung membalas dengan ancaman terhadap AS, Israel, dan sekutu-sekutunya. Ketidakpastian seperti inilah yang selalu menjadi pupuk bagi harga emas.
Sementara itu, dari sisi kebijakan moneter, The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga. Keputusan itu sebenarnya sudah diantisipasi pasar. Namun yang menarik, setelah pengumuman itu, spekulasi beralih ke kemungkinan pemangkasan suku bunga pada Juni nanti tidak lebih cepat dari itu.
Ada sedikit drama dalam rapat The Fed. Dua gubernur, Christopher Waller dan Stephen Miran, menyatakan dissent. Mereka justru mendukung pemotongan suku bunga sebesar seperempat poin persentase. Waller sendiri disebut-sebut sebagai calon kuat pengganti Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir Mei mendatang.
Sebagai aset safe haven, kinerja emas tahun ini sungguh fantastis. Kenaikannya telah melampaui 25 persen, melanjutkan tren bullish dari tahun 2025 yang catatannya juga mengesankan: 64 persen. Lingkungan suku bunga rendah jelas masih menjadi angin baik bagi logam kuning ini.
Euforia ini bukan cuma terjadi di layar monitor trader. Di Shanghai dan Hong Kong, toko-toko emas ramai dipadati pembeli. Banyak dari mereka yang datang dengan spekulasi sederhana: harga masih mungkin naik lagi. Mereka tak ingin ketinggalan.
Bagaimana dengan logam mulia lainnya? Perak spot terpantau stabil di USD 116,61 per ons, setelah sempat sentuh rekor USD 117,69. Platinum naik tipis 0,4 persen ke USD 2.705,79, sementara paladium menguat 0,3 persen ke level USD 2.079,32 per ons. Mereka ikut merasakan gelombang optimisme, meski sorotan utama tetap pada sang primadona: emas.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020