Pasar saham kita diguncang hebat hari Rabu kemarin. IHSG terperosok dalam, sempat anjlok hampir 9 persen di tengah sesi hingga perdagangan terpaksa dihentikan sementara. Pada penutupan, indeks masih terkapar dengan pelemahan 7,3 persen di level 8.320,6. Guncangan ini, menurut para pelaku pasar, langsung menyusul pengumuman mengejutkan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) sehari sebelumnya.
Intinya, MSCI memutuskan untuk membekukan sementara sejumlah perubahan di indeksnya terkait Indonesia. Mereka tak akan menaikkan faktor inklusi asing atau jumlah saham yang dihitung. Penambahan saham baru ke dalam indeks investabel mereka juga dihentikan. Semua ini dilakukan untuk menahan laju perputaran indeks dan mengatasi kekhawatiran soal kelayakan berinvestasi di sini.
Lalu, apa yang sebenarnya dikhawatirkan MSCI? Masalahnya klasik: transparansi. Lembaga pemeringkat global itu menilai pasar modal Indonesia masih bermasalah dengan struktur kepemilikan saham dan penilaian free float yang kurang jelas. Mereka sudah coba berkonsultasi soal rencana penggunaan data dari KSEI bulan Oktober lalu, tapi hasilnya justru memunculkan kecemasan investor internasional. Mereka takut ada pola perdagangan yang terkoordinasi dan kurang transparan, yang bisa mengacaukan harga wajar saham.
Nah, ancamannya cukup serius. Jika tak ada kemajuan berarti hingga Mei 2026, MSCI akan mengevaluasi ulang status Indonesia. Bisa-bisa bobot kita di indeks pasar berkembang mereka dipotong, atau bahkan dikeluarkan dan digolongkan sebagai pasar frontier. Itu jelas mimpi buruk bagi daya tarik investasi.
Di sisi lain, otoritas kita langsung bergerak. BEI bersama KSEI, KPEI, dan OJK menyatakan komitmen untuk berkoordinasi lebih intens dengan MSCI. Mereka menganggap masukan ini penting untuk meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata dunia.
Artikel Terkait
Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi Empat Bulan, Ketegangan Iran dan Dolar Melemah Jadi Pemicu
Emas Tembus USD 5.400, Ketegangan Global Picu Reli Gila-Gilaan
Badai MSCI Guncang IHSG, Saham Komoditas Jadi Pelindung di Tengah Panik
BCA Siapkan Buyback Rp 5 Triliun, Tunggu Restu Pemegang Saham pada 2026