Donald Trump tampak santai saja soal dolar yang melemah. Bahkan, Presiden AS itu menyebut kondisi mata uang negaranya sedang baik-baik saja.
Ditanya apakah ia khawatir dengan penurunan nilai dolar, Trump justru membalas dengan nada optimis. Ini terjadi di Iowa, Selasa lalu.
“Tidak, menurut saya itu bagus. Saya pikir nilai dolar, lihat saja bisnis yang sedang kita jalankan. Dolar sedang baik-baik saja,” ujarnya.
Namun begitu, komentar itu justru seperti memberi angin bagi para pelaku pasar. Alih-alih menenangkan, pernyataannya malah mendorong pelemahan dolar AS lebih dalam, hingga ke level terendah sejak awal 2022. Bloomberg Dollar Spot Index anjlok 1,2 persen, dan berpotensi mencatat penurunan bulanan terburuk sejak April.
Sejak Trump kembali berkuasa, dolar memang mengalami penurunan terdalam. Mirip dengan guncangan yang terjadi tahun lalu akibat kebijakan tarif dagangnya. Kini, kekhawatiran akan kebijakan yang sulit ditebak membuat banyak investor asing berpikir dua kali untuk menanamkan modal di AS.
Di sisi lain, Trump punya sejarah panjang menuduh negara lain sengaja melemahkan mata uang mereka. Menteri Keuangannya, Scott Bessent, juga kerap menyoroti selisih antara harga dolar dan nilainya sebagai mata uang cadangan global. Jadi, komentar terbaru Trump itu dianggap banyak orang sebagai lampu hijau untuk menjual dolar.
“Banyak orang di kabinet Trump menginginkan dolar yang lebih lemah agar ekspor menjadi lebih kompetitif. Mereka sedang mengambil risiko yang terukur. Mata uang yang lebih lemah bisa menguntungkan sampai situasinya menjadi tidak terkendali,” jelas Win Thin, kepala ekonom di Bank of Nassau.
Faktor lain turut berperan, tentu saja. Penguatan tajam Yen pekan lalu, misalnya, ikut mendorong pelemahan dolar. Para trader bersiap-siap menghadapi intervensi pemerintah Jepang yang berusaha menopang yen.
Tapi jangan salah, kebijakan Trump sendiri yang sulit ditebak juga memperparah keadaan. Mulai dari ancaman mengambil alih Greenland, tekanan terhadap Federal Reserve, pemangkasan pajak yang melebarkan defisit, hingga gaya kepemimpinannya yang memecah belah semuanya mengguncang kepercayaan sekutu dan investor.
Yang menarik, pelemahan ini terjadi dalam kondisi yang seharusnya mendukung dolar. Imbal hasil obligasi pemerintah naik, dan ada ekspektasi The Fed akan menahan pemotongan suku bunga. Dua hal ini biasanya justru menguatkan mata uang. Trump sendiri terus mendesak agar suku bunga diturunkan lebih jauh, sebuah langkah yang jelas akan membebani dolar.
Akibatnya, investor pun mencari aman. Mereka berbondong-bondong ke aset penyimpan nilai seperti emas, yang melonjak ke rekor tertinggi sebuah tren yang disebut debasement trade. Ada juga aliran dana yang deras ke reksa dana pasar berkembang, sebuah rotasi keluar dari aset AS yang oleh sebagian orang dijuluki quiet-quitting.
“Pergerakan dolar hari ini mungkin terlihat berlebihan,” kata Tatiana Darie, Macro Strategist di Bloomberg. “Tapi pernyataan Presiden Trump menegaskan risiko yang masih akan terus menekan mata uang ini. Wajar jika investor mencari perlindungan di tempat lain.”
Selama ini, sikap Trump terhadap dolar memang sering terlihat mendua. Di satu sisi, ia memuji dolar kuat sebagai alat negosiasi. Di sisi lain, ia tak menampik manfaat dolar lemah bagi pabrik-pabrik di dalam negeri.
“Saya adalah orang yang menyukai dolar kuat, tetapi dolar yang lemah membuat Anda menghasilkan uang jauh lebih banyak,” katanya tahun lalu.
Meski bisa mendongkrak ekspor, pelemahan dolar yang berkepanjangan jelas membawa risiko. Robert Kaplan, wakil ketua Goldman Sachs Group Inc., mengingatkan soal utang pemerintah AS yang sudah menumpuk.
“Memang benar, dolar yang lebih lemah meningkatkan ekspor. Namun, Amerika Serikat memiliki utang sebesar USD 39 triliun yang akan menuju lebih dari USD 40 triliun. Dengan utang sebesar itu, saya pikir stabilitas mata uang mungkin lebih penting daripada ekspor,” papar Kaplan.
“Saya justru berpikir AS ingin melihat dolar yang stabil. Mereka ingin bisa menjual obligasi pemerintah di tenor panjang: dolar yang stabil membantu hal itu,” tambahnya.
Fakta di pasar pun berbicara. Sejak pelantikan Trump, indeks mata uang AS versi Bloomberg merosot hampir 10 persen. Trader masih bertaruh pelemahan akan berlanjut. Premi untuk opsi yang diuntungkan oleh pelemahan dolar bahkan mencapai level tertinggi sejak 2011. Ekspektasi bullish terhadap mata uang lain juga meroket.
Volume perdagangan melonjak tajam. Transaksi melalui Depository Trust & Clearing Corp. pada Selasa lalu bahkan memecahkan rekor. Dan setidaknya satu indikator menyebut, dolar masih dinilai terlalu mahal. Berdasarkan paritas daya beli dari OECD, dolar AS dinilai terlalu tinggi terhadap hampir semua mata uang G10, kecuali franc Swiss. Sementara Yen dan Euro dinilai sangat undervalued sebuah argumen yang sering digunakan eksportir Eropa dan Jepang.
Trump sendiri sepertinya merasa punya kendali penuh atas nilai tukar. Di kesempatan yang sama, ia menyatakan bisa memanipulasi kekuatan dolar.
“Saya bisa membuatnya naik atau turun seperti yo-yo,” katanya.
Tapi ia menggambarkan hal itu sebagai hasil yang tidak diinginkan, sambil menyamakannya dengan mempekerjakan orang tanpa perlu hanya untuk mendongkrak statistik. Ia lalu kembali menyoroti praktik negara Asia, yang menurutnya sengaja melemahkan mata uang.
“Kalau Anda melihat China dan Jepang, dulu saya bertarung habis-habisan dengan mereka, karena mereka selalu ingin melemahkan Yen. Anda tahu itu? Yen dan Yuan, dan mereka selalu ingin melemahkannya. Mereka melemahkan, melemahkan, melemahkan,” ujar Trump.
“Dan saya bilang, tidak adil kalau Anda melemahkan mata uang, karena sulit bersaing ketika mereka melemahkannya. Tapi mereka selalu membantah, tidak, mata uang kami baik-baik saja,” lanjutnya.
Jadi, di tengah gejolak pasar dan komentar yang saling bertolak belakang, satu hal yang pasti: dolar AS sedang berada di jalur yang berliku. Dan semua mata tertuju pada kata-kata berikutnya dari orang nomor satu di Gedung Putih.
Artikel Terkait
Pemerintah Targetkan Program B50 Serap 1,9 Juta Tenaga Kerja pada 2026
ESSA Cetak Laba Bersih Melonjak 131 Persen di Awal 2026, Didorong Kenaikan Harga Amoniak
Powell Tolak Mundur, Pilih Lanjut sebagai Gubernur The Fed Usai Jabatan Ketua Berakhir
Harga Minyak Melonjak 7 Persen Imbas Negosiasi AS-Iran Mandek dan Stok AS Anjlok