LPS Soroti Suku Bunga Simpanan yang Belum Turun Sesuai Sinyal Pasar

- Selasa, 27 Januari 2026 | 19:36 WIB
LPS Soroti Suku Bunga Simpanan yang Belum Turun Sesuai Sinyal Pasar

Di ruang konferensi Gedung Djuanda I, Anggito Abimanyu dari LPS menyampaikan kegelisahannya. Menurutnya, ada sesuatu yang belum klop. Penurunan suku bunga simpanan di bank-bank, belakangan ini, ternyata belum sepenuhnya mengikuti laju penurunan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) yang sudah terjadi selama tiga bulan terakhir.

"Penurunan suku bunga yang kami lihat, khususnya suku bunga simpanan, ini belum searah dengan penurunan Tingkat Bunga Penjaminan dalam tiga bulan terakhir," ujar Anggito, Selasa (27/1) lalu.

Angkanya cukup jelas. Suku bunga simpanan untuk tenor tiga bulan masih bertengger di 3,86 persen, sementara tenor satu bulan ada di 3,62 persen. Nah, yang bikin rumit, sampai Desember 2025 nanti, simpanan perbankan yang bunganya masih di atas TBP diprediksi bakal tetap besar lebih dari 30 persen. Imbasnya? Biaya dana atau cost of fund bank jadi susah turun, yang ujung-ujungnya memperlambat penurunan suku bunga kredit.

"Oleh karena itu, LPS mengimbau industri perbankan untuk mengikuti sinyal TBP dan mekanisme pasar, sehingga suku bunga pinjaman bisa turun dan stabilitas pendanaan tetap terjaga dan mendukung fungsi intermediasi," tegas Anggito.

Di sisi lain, perhatiannya juga tertuju pada kelompok bank yang lebih kecil. Stabilitas sistem keuangan secara umum mungkin masih aman, tapi Anggito mencium peningkatan risiko pada BPR dan BPRS, bank-bank dengan modal terbatas. Risiko ini, katanya, bukan cuma soal angka di neraca.

"Dominasi kepemilikan perorangan pada BPR dan BPRS menunjukkan bahwa tantangan stabilitas ke depan semakin struktural dan operasional, bukan hanya masalah siklikal,"

Masalahnya kompleks. Mulai dari tata kelola yang belum oke, keterbatasan sumber daya manusia, sampai tantangan operasional harian. Untuk itu, Anggito melihat modernisasi sebagai sebuah keharusan. Mendesak, bahkan.

Memperkuat infrastruktur dan kapasitas teknologi informasi, khususnya sistem inti perbankan, dinilainya sebagai langkah strategis. Ini bukan cuma buat efisiensi, tapi juga buat menguatkan pengendalian risiko, ketahanan terhadap serangan siber, dan mencegah penipuan.

Lalu, ada pekerjaan rumah jangka panjang yang tak kalah penting: literasi keuangan. LPS bersama KSSK mendorong agar masyarakat bukan cuma punya rekening, tapi juga aktif dan bijak menggunakannya. Tujuannya jelas, agar rekening itu tak disalahgunakan dan pada akhirnya ikut menjaga sistem keuangan kita dari risiko.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar