“Waktu itu ada enam saham di indeks NIFTY yang keluar. Tapi menariknya, di akhir tahun justru delapan saham yang masuk kembali,” katanya.
Dari situ, ia menilai tekanan yang terjadi sekarang lebih bersifat struktural. Artinya, butuh waktu untuk penyesuaian dan tidak akan selesai dalam semalam.
Semua ini berawal dari pengumuman MSCI pada akhir Oktober tahun lalu. Mereka sedang menjajaki penggunaan data Monthly Holding Composition dari KSEI sebagai acuan tambahan menghitung free float saham Indonesia. Data KSEI dianggap lebih lengkap karena mencakup kepemilikan di bawah 5% dan klasifikasi pemegang saham, berbeda dengan laporan BEI yang hanya mewajibkan laporan untuk kepemilikan di atas 5%.
Inti usulannya begini: MSCI berencana menentukan free float berdasarkan nilai terendah antara hasil hitungan metodologi lama mereka dan estimasi pakai data KSEI. Dalam skenario berbasis KSEI, saham script plus kepemilikan oleh korporasi dan kategori 'others' akan dianggap sebagai non-free float. Ada juga opsi lain, di mana hanya saham script dan kepemilikan 'korporasi' saja yang dikategorikan non-free float, tanpa menghitung kategori 'others'.
Rencana ini tentu saja memicu kekhawatiran. Banyak yang takut bobot saham-saham besar di indeks MSCI bakal menyusut drastis.
MSCI sudah menutup masa masukan publik pada 31 Desember 2025. Sekarang, pasar sedang menunggu-nunggu. Hasil konsultasi dijanjikan akan diumumkan sebelum 30 Januari 2026 mendatang. Kalau benar disetujui, perubahan metodologi baru ini bakal diterapkan pada review indeks Mei nanti.
Jadi, situasinya masih menegangkan. Semua mata tertuju pada keputusan MSCI dalam beberapa hari ke depan. Sementara itu, pasar seperti sedang menahan napas, menunggu kejelasan aturan baru yang bisa mengubah peta permainan.
Artikel Terkait
Thomas Djiwandono Resmi Jadi Deputi Gubernur BI, Tegaskan Komitmen Jaga Independensi Bank Sentral
IHSG Tergelincir ke 8.921, Saham Blue Chip Terus Tertekan
BEI Ungkap Target: Danantara Siap Masuk Pasar Modal Tahun Ini
IHSG Tersungkur di Tengah Geliat Pasar Asia