Kilau emas dunia makin terang saja. Pada perdagangan Jumat (23/1), tepatnya pukul 16:58 EST, harga logam mulia di pasar spot berhasil ditutup menguat ke level USD 4.987,49 per ons. Angka ini naik dari penutupan sebelumnya yang berada di USD 4.936,02. Yang menarik, posisinya kini sudah nyaris menyentuh puncak tertinggi dalam setahun terakhir.
Perjalanannya sepanjang hari itu sendiri tidak mulus. Harga sempat tertekan dan anjlok cukup dalam di tengah sesi. Tapi, ia berhasil bangkit dan berbalik naik, menutup perdagangan di dekat level tertinggi harian. Volatilitasnya memang tinggi, namun sentimen akhir pekan lalu jelas positif.
Kalau kita lihat ke belakang, posisi harga sekarang ini cuma selisih tipis dari rekor 52 minggu di USD 4.990,90. Bandingkan dengan level terendahnya dalam periode yang sama, yakni USD 2.730,58. Kenaikan semacam ini semakin mengukuhkan peran emas sebagai pelindung nilai di tengar riuhnya dinamika pasar global.
Sejak awal tahun, kinerjanya pun solid. Kenaikan year-to-date (YTD) tercatat mencapai 15,47 persen. Ini jelas mencerminkan satu hal: minat investor terhadap aset safe haven kian menguat, didorong oleh ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang belum juga reda.
Goldman Sachs Lebih Optimis, Proyeksi Harga Dinaikkan Drastis
Goldman Sachs Group Inc. baru saja merevisi proyeksi harga emas mereka ke atas. Kenaikannya signifikan, lebih dari 10 persen. Bank investasi raksasa itu melihat gelombang diversifikasi aset ke emas oleh sektor swasta kian deras, yang memperkuat permintaan yang sudah datang dari bank sentral dan reksadana ETF.
Target harga untuk Desember 2026 kini dinaikkan menjadi USD 5.400 per ons. Sebelumnya, proyeksi mereka 'hanya' USD 4.900. Asumsinya, investor swasta yang membeli emas sebagai lindung nilai dari risiko kebijakan makro akan bertahan setidaknya hingga akhir tahun.
Hal ini disampaikan oleh para analis Goldman, termasuk Daan Struyven dan Lina Thomas.
Menurut mereka, strategi saat ini berbeda dengan lindung nilai untuk peristiwa sesaat, seperti pemilu AS. Posisi yang diambil sekarang lebih untuk mengantisipasi risiko struktural misalnya soal keberlanjutan fiskal yang sifatnya dianggap lebih "melekat" dan tidak akan cepat hilang tahun ini.
Fakta di lapangan memang kuat. Harga emas telah melonjak lebih dari 70 persen dalam 12 bulan terakhir, memecahkan rekor beruntun. Reli ini berlanjut hingga awal tahun, didorong arus modal ke aset aman. Dinamika kekuatan global yang berubah, ditambah serangan Presiden Donald Trump terhadap Federal Reserve yang menggoyang kepercayaan, turut memicu hal ini.
Di sisi lain, pembelian oleh bank sentral diperkirakan akan konsisten. Goldman memproyeksikan rata-rata 60 ton per bulan pada 2026, dengan otoritas moneter di negara berkembang kemungkinan besar terus mendiversifikasi cadangan devisa mereka ke emas.
Sementara itu, kepemilikan ETF emas di negara Barat telah bertambah sekitar 500 ton sejak awal 2025. Angka ini melampaui proyeksi yang hanya berdasar pada penurunan suku bunga AS. Goldman sendiri memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga tambahan 50 basis poin pada 2026.
Ada faktor pendorong lain yang disebut "debasement trade". Ini mencakup pembelian fisik oleh keluarga superkaya dan opsi beli oleh investor, yang muncul akibat kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter dan fiskal jangka panjang di negara-negara maju.
Namun begitu, bukan berarti tidak ada risiko. Goldman menilai proyeksi yang dinaikkan ini justru lebih berpeluang untuk naik lagi, jika investor swasta makin gencar mendiversifikasi portofolio. Tapi, mereka juga mengingatkan: penurunan tajam dalam persepsi risiko kebijakan global bisa memicu pelepasan posisi lindung nilai. Itu akan menjadi ancaman serius bagi harga.
Artikel Terkait
Geoprima Solusi Akuisisi Aset Rp78,5 Miliar, Bertransformasi Jadi Pemain Industri Komponen Mekanikal
Penjualan Mark Dynamics Tembus Rp251 Miliar di Kuartal I-2026, Laba Bersih Naik 19 Persen
IHSG Ditutup Menguat 0,65 Persen ke 7.175, Sektor Bahan Baku Paling Moncer
Harga Amonia Melonjak Akibat Ketegangan Timur Tengah, Saham ESSA Melesat 57 Persen Sepanjang 2026