Pasca-insiden 8 September 2025, PTFI tak tinggal diam. Mereka fokus pada persiapan pengaktifan kembali operasi dengan aman. Dan pada akhir Oktober 2025, dua tambang lain yang tak terdampak, DMLZ dan Big Gossan, sudah beroperasi kembali.
Target Produksi 2026: Perlahan Pulih
Lalu, bagaimana prospek 2026? Targetnya, peningkatan produksi di GBC baru dimulai kuartal II. Rencananya, Blok Produksi 2 dan 3 akan dihidupkan kembali di periode itu. Sementara untuk Blok Produksi 1, kemungkinan baru beroperasi lagi di 2027. Perkiraan saat ini, sekitar 85% dari total produksi normal akan pulih di paruh kedua 2026. Jadi, pemulihan bertahap.
PTFI juga sedang berupaya mengklaim asuransi. Polis asuransi gangguan bisnis mereka dikabarkan bisa menanggung kerugian hingga USD 1 miliar, dengan batas tertentu untuk insiden bawah tanah. Setelah dikurangi biaya klaim, nilainya masih signifikan.
Untuk tahun depan, produksi tembaga dan emas PTFI diperkirakan justru akan lebih tinggi daripada penjualan. Ini karena ada penundaan pengiriman sekitar 100 juta pon tembaga dan 100 ribu ounce emas yang masih tersimpan di fasilitas peleburan. Sementara volume penjualan konsolidasi untuk 2026 diproyeksikan sekitar 0,9 miliar pon tembaga dan 0,8 juta ounce emas.
Yang jelas, aktivitas penjualan baru akan benar-benar terasa di paruh kedua tahun depan. Sekitar 78% penjualan tembaga dan 75% penjualan emas diperkirakan terjadi setelah GBC mulai beroperasi lagi dan produksinya meningkat perlahan. Jadi, tahun depan masih tahun transisi yang penuh tantangan bagi Freeport Indonesia.
Artikel Terkait
Gen Z Pilih Kepuasan Kerja, Gaji Tinggi Bukan Lagi Prioritas Utama
UKM Bisa Kuasai Tambang, Ini Syarat Jalur Prioritasnya
Agrinas Palma Cetak Laba Rp 1,6 Triliun di Tahun Pertama
Bank Mandiri Pacu Ekonomi Desa Lewat Kucuran Rp74,9 Triliun untuk UMKM