Rekor baru kembali dicetak oleh pasar logam mulia. Senin kemarin, harga emas dan perak melesat ke level tertinggi sepanjang masa. Pemicunya? Tak lain adalah ancaman tarif terbaru dari Presiden AS Donald Trump yang memicu gelombang aksi jual di pasar dan mendorong investor mencari tempat berlindung yang aman.
Emas spot (XAU/USD) tercatat naik 1,61 persen, berada di posisi USD4.670,29 per troy ons. Bahkan, dalam perdagangan sempat menyentuh puncak di angka USD4.689,39. Kenaikan ini tak lepas dari pernyataan Trump di akhir pekan. Ia mengancam akan mengenakan tarif yang lebih tinggi pada beberapa sekutu Eropa, kecuali AS diizinkan membeli Greenland. Ancaman ini jelas memanaskan kembali sengketa dengan Denmark soal pulau di Arktik itu.
Linh Tran, Analis Pasar Senior XS.com, melihat pola klasik yang berulang.
“Ketika risiko kebijakan dan institusional kembali mencuat, pasar cenderung bereaksi cepat dengan mengalihkan aset ke instrumen lindung nilai. Emas kembali muncul sebagai pilihan utama,” ujarnya.
Ancaman Trump itu juga berdampak pada pelemahan dolar AS. Melemahnya mata uang utama dunia itu justru semakin mendongkrak minat pada aset-aset safe haven. Investor ramai-ramai beralih ke emas, yen Jepang, dan franc Swiss. Situasinya memang sedang risk-off di pasar global.
Seperti kita tahu, emas punya reputasi bagus di tengah gejolak. Ketidakpastian geopolitik, kondisi ekonomi yang gamang, plus lingkungan suku bunga rendah adalah kombinasi sempurna bagi kinerja logam kuning ini. Sepanjang 2025 lalu, emas sudah meroket lebih dari 64 persen. Dan sejak awal 2026 ini, kenaikannya masih berlanjut, sudah lebih dari 8 persen.
Dari sisi kebijakan, sentimen pasar juga didukung oleh komentar dari The Fed. Wakil Ketua untuk Pengawasan, Michelle Bowman, pada Jumat lalu mengisyaratkan kewaspadaan. Ia menyebut kondisi pasar tenaga kerja yang rapuh dan berpotensi melemah dengan cepat bisa memaksa bank sentral AS untuk siap memangkas suku bunga lagi jika diperlukan.
Nah, pasar sendiri saat ini memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga dalam pertemuan akhir Januari nanti. Tapi, mereka sudah mempertimbangkan setidaknya dua kali pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin sepanjang tahun 2026.
Tak cuma emas, perak juga menunjukkan performa yang bahkan lebih spektakuler. Harga perak spot melonjak tajam 5 persen ke level USD94,41 per troy ons, setelah sebelumnya mencetak rekor di USD94,61. Sejak tahun baru, logam putih ini sudah naik lebih dari 32 persen angka yang cukup fantastis.
Melihat kondisi ini, analis Citi Research menyatakan mereka tetap bersikap bullish secara taktis terhadap logam mulia. Target harga mereka cukup ambisius: USD5.000 per troy ons untuk emas dan USD100 per troy ons untuk perak dalam tiga bulan ke depan. Alasan mereka sederhana: ketegangan geopolitik diperkirakan bakal tetap tinggi dalam waktu dekat.
Di sisi lain, logam mulia lainnya juga ikut merasakan imbasnya. Platinum spot naik 1,5 persen ke USD2.362,65, sementara palladium menguat 1,1 persen ke USD1.819,99 per troy ons. Semuanya bergerak hijau, menandakan sentimen positif yang meluas di sektor komoditas berharga ini.
Artikel Terkait
Reformasi Pasar Modal Indonesia Dinilai Bukan Sekadar Ikuti Tren, tapi Kebutuhan Struktural
Pertamina Geothermal Energi Bagikan Dividen Rp2,14 Triliun untuk Tahun Buku 2025
Wall Street Tertekan, Ketegangan AS-Iran dan Kekhawatiran AI Tekan Saham Teknologi
BELL Setujui Dividen Rp10 Miliar di Tengah Tekanan Industri Tekstil