Rencana pemerintah menghidupkan kembali BUMN di sektor tekstil menuai sorotan. Bukan tanpa alasan, langkah ini dianggap berisiko oleh beberapa pengamat. Mereka lebih menekankan pentingnya menyelamatkan industri yang sudah ada ketimbang membuat badan usaha baru.
Danang Widoyoko dari Transparency International Indonesia (TII) punya pandangan keras soal ini. Menurutnya, masuknya negara ke bisnis tekstil justru kurang tepat.
"Jadi ini sangat berisiko. Kemudian yang kedua, untuk apa juga negara masuk mengurusi tekstil," ujarnya.
Ia menambahkan, "Justru sebetulnya yang dibutuhkan adalah kebijakan untuk memberikan insentif atau insentif kepada industri tekstil yang sudah ada dan sekarat kemarin."
Pernyataan itu disampaikannya pada Minggu (18/1). Bagi Danang, akar masalahnya jelas: impor yang tak terkendali. Selama perdagangan lintas batas tak dibenahi, percuma saja mengucurkan dana besar untuk BUMN baru.
"Problemnya ini kan impor jor-joran. Impor yang pada akhirnya mematikan industri kita," tegasnya.
Di sisi lain, Herry Gunawan dari NEXT Indonesia Center sependapat. Ia melihat tak ada urgensi mendesak untuk membangun BUMN tekstil saat ini. Apalagi, kita punya pelajaran dari PT Industri Sandang Nusantara. BUMN terdahulu itu akhirnya kalah bersaing, merugi, dan bubar pada 2023.
"Menurut saya, rencana pemerintah membentuk BUMN di bidang pertekstilan tidak ada urgensinya," kata Herry.
Ia khawatir, jika BUMN baru ini masuk hingga ke hilir misalnya memproduksi pakaian jadi bukan solusi yang didapat. Justru tekanan baru bagi industri dalam negeri yang sedang terimpit.
Meski begitu, jika keputusan itu sudah bulat, Herry punya pesan. Perusahaan negara ini harus fokus pada pemenuhan rantai pasok, cukup jadi produsen bahan baku. Jangan sekali-kali masuk ke produk akhir.
"BUMN yang baru jangan jadi pesaing industri tekstil yang sudah ada," ujarnya. "Yang saat ini justru sedang kesulitan karena berhadapan dengan produk impor maupun pakaian bekas."
Sebelumnya, rencana ini memang sudah digaungkan dari level tertinggi. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut Presiden ingin menghidupkan kembali BUMN tekstil. Danantara, induk usaha BUMN, dikabarkan menyiapkan pendanaan fantastis: USD 6 miliar atau setara Rp 101,2 triliun.
"Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali," kata Airlangga di Hotel Mulia, Jakarta Selatan, Rabu (14/1).
Soal pendanaan besar itu, CEO Danantara Rosan Roeslani memberi penjelasan. Setiap investasi pasti melalui kajian kelayakan yang ketat. Namun, parameter yang dipakai tidak melulu soal profit.
"Kita terbuka untuk menerima misalnya investasi yang secara return mungkin lebih rendah dari parameter kita apabila penciptaan lapangan pekerjaan lebih tinggi," jelas Rosan pada Kamis (15/1).
Ia menambahkan, "Mungkin tekstil kan salah satu yang dari segi pencapaian kita lapangan pekerjaan itu sangat besar."
Niat pemerintah mungkin baik, ingin membangkitkan sektor yang punya sejarah panjang. Tapi di lapangan, industri tekstil masih terengah-engah. Mereka butuh napas, bukan pesaing baru apalagi yang dibiayai negara.
Artikel Terkait
Konflik Timur Tengah Picu Gejolak Modal, BI Catat Pemulihan di Kuartal II-2026
BI: Ketegangan Timur Tengah Persempit Ruang The Fed Turunkan Suku Bunga
Saham Bank Danamon Melonjak 25 Persen, Manajemen Buka Suara soal Rumor Akuisisi MUFG
IHSG Melemah Tipis, Saham COAL Melonjak 34 Persen Pimpin Top Gainers