ujarnya menegaskan.
Nah, kalau dilihat dari volumenya, ceritanya agak berbeda. Kenaikan nilai ternyata tidak diikuti kenaikan volume yang berarti. Total volume ekspor periode Januari-Oktober 2025 hanya 287,5 juta kilogram, naik tipis dari 284,4 juta kg di tahun sebelumnya. Bahkan, ekspor biji kakao mentah justru anjlok volumenya, dari 11,59 juta kg di 2024 menjadi 7,8 juta kg di 2025.
Di sinilah hal menarik terlihat. Performa industri olahan kakao domestik rupanya jauh lebih kuat. Andalannya adalah lemak kakao, yang menyumbang nilai hampir USD 1,94 miliar. Produk lain seperti bubuk kakao juga meroket, dari USD 348,4 juta menjadi USD 650,2 juta. Ekspor cokelat olahan pun ikut naik, baik nilai maupun volumenya.
Lalu, ke mana saja produk-produk ini dikirim? Pasar biji kakao kita masih mengandalkan Malaysia dan Belanda, diikuti Jepang dan Belgia. Untuk lemak kakao, Tiongkok dan Estonia jadi tujuan utama. Sementara bubuk kakao banyak dikirim ke India dan Tiongkok.
Produk makanan cokelat dan kembang gula merajai pasar Asia seperti Filipina dan Thailand. Pasta kakao, pasar utamanya masih China dan Malaysia.
Memandang ke depan, Soetanto memperkirakan kinerja ekspor 2026 tak akan jauh berbeda dari tahun ini. Soal wacana pembentukan badan khusus untuk pemungutan Devisa Hasil Ekspor (DHE) kakao? Itu belum dibahas lebih lanjut oleh Dekaindo. Untuk sekarang, fokusnya adalah menghadapi tantangan yang ada, sambil berusaha mempertahankan tren positif dari produk olahan.
Artikel Terkait
Pefindo Pangkas Peringkat PTPP, Prospek Negatif Mengintai
Rencana BUMN Tekstil Baru Dikritik: Jangan Jadi Pesaing Industri yang Sekarat
Dana IPO RATU Rp212 Miliar Ludes, Terbesar Disuntikkan ke Anak Usaha
KKP Siapkan Ribuan Sertifikat untuk Jaga Ekspor Udang ke AS