Industri kakao dalam negeri masih menghadapi sejumlah tantangan serius. Itulah penilaian yang disampaikan oleh Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo) belakangan ini. Soetanto Abdoellah, Ketua Umum Dekaindo, menyoroti satu masalah mendasar yang akan terus berlanjut hingga tahun depan: ketergantungan pada bahan baku dari luar.
“Pemenuhan bahan baku biji kakao untuk industri dalam negeri yang masih kurang, dan masih perlu impor,”
kata Soetanto kepada media, Minggu (18/1).
Namun begitu, di tengah tantangan itu, ada secercah kabar baik dari data ekspor. Nilainya melonjak cukup signifikan. Periode Januari-Oktober 2025, ekspor kakao Indonesia menyentuh angka USD 3,11 miliar. Bandingkan dengan periode yang sama di 2024, yang hanya USD 1,98 miliar. Kenaikan yang cukup mencengangkan.
Tapi jangan salah, Soetanto mengingatkan bahwa tantangan tak cuma soal pasokan. Di sisi lain, ada berbagai persyaratan ketat dari negara tujuan ekspor yang harus dipenuhi. Belum lagi ancaman regulasi baru dari Eropa, EU Deforestation Regulation (EUDR), yang akan berlaku penuh akhir 2026.
“Persyaratan food safety yang makin ketat di negara tujuan ekspor, perlu persiapan kondisi di dalam negeri menjelang diberlakukannya EUDR,”
Artikel Terkait
KKP Siapkan Ribuan Sertifikat untuk Jaga Ekspor Udang ke AS
Prospek ASRI 2026: Laba Bersih Diproyeksikan Melonjak Lima Kali Lipat
Emas Siap Cetak Rekor, Sentimen Global Pacu Harga ke Rp 2,8 Juta
Proyek Kereta Api Baru Bukit Asam Jadi Penopang di Tengah Harga Batu Bara yang Melandai