Namun, di balik optimisme itu, ada nada prihatin. Wang Jun tampaknya menyindir kebijakan sejumlah negara, khususnya AS.
Data terakhir di Desember pun cukup menggembirakan: ekspor tumbuh 6,6 persen dan impor melonjak 5,7 persen secara tahunan. Tren kuat yang menutup tahun dengan baik.
Lantas, apakah momentum ini akan bertahan? Zichun Huang, ekonom dari Capital Economics, memperkirakan iya.
Tapi dia juga mengingatkan, ancaman masih membayang. Gencatan senjata dagang dengan AS dinilainya rentan.
Memang, Gedung Putih dan Beijing sempat berseteru soal warisan tarif Trump itu. Tapi pada musim semi lalu, kedua raksasa itu akhirnya sepakat pada gencatan senjata yang lebih luas. Sebuah jeda, yang meski rapuh, memberi napas bagi perdagangan global. Sekarang, semua pihak menunggu, apakah jeda ini akan bertahan atau justru menjadi awal dari babak ketegangan berikutnya.
Artikel Terkait
PT Master Print Tunda RUPS Penting Usai Permintaan Klarifikasi OJK
GTSI Ekspansi Armada Tangkap Peluang Kenaikan Tarif LNG Imbas Konflik Iran
IHSG Anjlok 2,65% Imbas Ketegangan Iran-Israel, Sektor Energi Melonjak
PJHB Ganti Galangan Kapal Ketiga, Beralih ke TSU karena Harga Lebih Kompetitif