“Untuk mengurangi kerentanan yang sistemik, Indonesia berkontribusi memperkuat financial inclusion, termasuk melalui mekanisme inovatif seperti QRIS,” paparnya.
Upaya diplomasi pun digenjot. Hasilnya? QRIS tak lagi sekadar alat pembayaran dalam negeri. Sugiono dengan bangga menyebutkan bahwa sistem buatan Indonesia ini sudah bisa digunakan untuk transaksi lintas batas di beberapa negara tetangga dan mitra dagang.
“Berkat upaya diplomasi kita, QRIS telah memfasilitasi transaksi lintas batas di berbagai negara seperti Thailand, Malaysia, Tiongkok, dan Jepang,” tutur Sugiono.
Rencana perluasan cakupannya pun masih terus berjalan. Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) sudah mengisyaratkan akan memperluas jaringan QRIS lintas negara. Beberapa negara seperti China, Korea Selatan, dan Arab Saudi masuk dalam daftar prioritas. Bahkan, pembicaraan untuk mengimplementasikannya di India juga sudah mulai dilakukan oleh pihak industri.
Adopsinya di dalam negeri sendiri terbilang fenomenal. Per Agustus 2025, jumlah pengguna QRIS telah melampaui 57 juta. Yang menarik, mayoritas penggunanya adalah pelaku UMKM sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi kita. Sebagai perbandingan, data Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) per Juni 2025 menunjukkan jumlah kartu kredit yang beredar 'hanya' sekitar 18,8 juta. Angka itu cukup berbicara tentang seberapa masif penetrasi QRIS di lapangan.
Artikel Terkait
Kisah Toko Kopi Bis Kota: Bertahan Sejak 1943 di Tengah Gempuran Zaman
Menteri Agama dan Menkeu Gali Harta Karun Dana Umat Rp 1.200 Triliun
KKP Siapkan Bantuan Kapal dan Perbaikan Tambak untuk Nelayan Sumatera yang Terdampak Bencana
Ribuan Taruna KKP Diterjunkan ke Sumatera untuk Percepat Pemulihan Bencana