Di sisi lain, langkah taktis juga sudah diambil oleh otoritas moneter. Sebelumnya, Erwin G. Hutapea dari Bank Indonesia (BI) mengakui pelemahan rupiah hingga Rp16.860 per USD lebih disebabkan faktor eksternal. Gejolak geopolitik global disebut sebagai pemicu tekanan.
Namun begitu, BI tak tinggal diam.
“Stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia yang terus dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder,” jelas Erwin.
Memang, secara angka, rupiah tercatat terdepresiasi 1,04 persen sepanjang tahun ini. Tapi BI punya senjata andalan: ketahanan eksternal. Posisi cadangan devisa yang masih sangat kuat, yakni USD156,5 miliar, dianggap sebagai buffer yang cukup untuk menghadapi ketidakpastian moneter global yang masih berlangsung.
Jadi, antara keyakinan politik fiskal dan langkah stabilisasi moneter, ada upaya bersama untuk menahan laju pelemahan. Tinggal menunggu waktu, apakah proyeksi dua minggu sang menteri itu benar-benar terwujud di tengah pasar yang masih diliputi kehati-hatian.
Artikel Terkait
Kisah Toko Kopi Bis Kota: Bertahan Sejak 1943 di Tengah Gempuran Zaman
Menteri Agama dan Menkeu Gali Harta Karun Dana Umat Rp 1.200 Triliun
KKP Siapkan Bantuan Kapal dan Perbaikan Tambak untuk Nelayan Sumatera yang Terdampak Bencana
Ribuan Taruna KKP Diterjunkan ke Sumatera untuk Percepat Pemulihan Bencana