Wall Street menutup perdagangan Selasa (13/1) dengan catatan merah. Sentimen pasar ternyata tak terselamatkan oleh data inflasi yang sesuai ekspektasi. Alih-alih, perhatian investor justru tertuju pada rencana kontroversial dari Presiden Donald Trump yang mengusulkan pembatasan suku bunga kartu kredit maksimal 10 persen. Gagasan itu langsung menekan saham-saham sektor keuangan, yang kemudian menarik indeks utama ke zona negatif.
Hasil akhirnya? Dow Jones Industrial Average (.DJI) merosot cukup dalam, turun 394,97 poin (0,81%) ke level 49.195,23. Sementara itu, S&P 500 (.SPX) dan Nasdaq Composite (.IXIC) juga ikut melemah, masing-masing anjlok 0,20% dan 0,10%.
Padahal, data inflasi AS untuk Desember sebenarnya memberi angin segar. Angkanya yang sesuai prediksi seolah mempertahankan peluang Federal Reserve untuk memotong suku bunga tahun ini. Namun begitu, sentimen positif itu langsung tenggelam oleh kekhawatiran yang lebih besar. Pasar sepertinya lebih fokus pada potensi dampak buruk kebijakan kartu kredit Trump terhadap profitabilitas industri perbankan dan finansial.
Kekhawatiran itu makin menjadi-jadi setelah sejumlah eksekutif puncak JPMorgan angkat bicara. CEO Jamie Dimon termasuk yang memperingatkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi merugikan konsumen, bukannya membantu.
Pernyataan itu seperti menyulut kembali aksi jual yang sebenarnya sudah berlangsung sejak rencana Trump diumumkan. Saham-saham keuangan pun terpuruk, menjadikan sektor ini sebagai kontributor utama pelemahan S&P 500. Raksasa pembayaran seperti Visa dan Mastercard ikut terseret arus penjualan.
“Sektor keuangan terpukul oleh proposal kartu kredit Trump,” ujar Tim Ghriskey, seorang senior portfolio strategist di Ingalls & Snyder, New York.
Artikel Terkait
IHSG Melaju ke 9.012, Rupiah Justru Tergelincir Tipis
Gejolak Iran dan Serangan di Laut Hitam Pacu Harga Minyak Melonjak
Minyak Mentah Melonjak 2,5%, Timah Jadi Bintang di Tengah Pelemahan Komoditas
Emas Ambil Napas Sejenak, Sentimen Hawkish The Fed dan Gejolak Global Jadi Penopang