Gobel Desak Jepang Fokus Bantu Indonesia Timur: Air Bersih hingga Pelatihan Petani

- Rabu, 14 Januari 2026 | 05:12 WIB
Gobel Desak Jepang Fokus Bantu Indonesia Timur: Air Bersih hingga Pelatihan Petani

Di kompleks DPR RI, Ketua Grup Kerja Sama Bilateral Indonesia-Jepang, Rachmat Gobel, baru-baru ini memimpin sebuah pertemuan penting. Lawan bicaranya adalah sejumlah anggota parlemen Jepang. Inti pembicaraannya jelas: meminta Jepang lebih memerhatikan Indonesia bagian timur.

“Khususnya membantu pengadaan air bersih, pelatihan petani muda, dan pertukaran guru,” ujar Gobel melalui keterangan tertulisnya, Selasa (13/1).

Permintaan itu bukan tanpa alasan. Faktanya, ketimpangan antara wilayah barat dan timur Indonesia masih terasa sangat lebar. Kontribusi PDB Indonesia timur cuma 21 persen, jauh di bawah bagian barat yang menguasai 79 persen. Lebih memprihatinkan lagi, sembilan dari sepuluh provinsi termiskin di negeri ini ada di timur. Begitu juga dengan Indeks Pembangunan Manusia dan masalah ketidakcukupan pangan wilayah timur selalu mendominasi daftar terburuk.

Nah, dalam kerja sama bilateral, Indonesia sebenarnya adalah penerima terbesar program Official Development Assistance (ODA) dari Jepang. Angkanya mencapai 11,3 persen dari total bantuan untuk negara berkembang. Sejak dimulai tahun 1968, nilai bantuan ini sudah menumpuk hingga miliaran dolar AS.

Gobel menekankan, masalah air bersih di timur itu kompleks. “Agak sulit dan butuh biaya besar,” katanya. Dampaknya pun serius, langsung menyentuh kesehatan dan ancaman stunting.

Di sisi lain, soal pangan juga tak kalah pelik. Ada kendala logistik yang mahal, tapi juga persoalan budaya bertani yang perlu diubah. Untuk itulah, Gobel mengusulkan pelatihan bagi petani muda di Jepang, yang teknologinya sudah maju.

“Ini penting untuk meningkatkan produksi pertanian,” tegasnya.

Ia punya pengalaman konkret. Dulu di Gorontalo, lewat program REDD , ia bekerja sama dengan Jepang menanam kakao dan bakau. Hasilnya? Kakao itu diekspor langsung ke Jepang. Kini, ada lagi program penanaman lima juta pohon kelapa yang sedang berjalan.

Menurut Gobel, program semacam ini punya banyak manfaat. Selain urusan perubahan iklim, juga bisa mengatasi krisis pangan. Data menunjukkan, situasi ketahanan pangan di Indonesia timur memang sangat membutuhkan intervensi.

“Karena itu program ini menjadi sangat penting untuk menjadi fokus perhatian kerja sama Indonesia-Jepang,” jelasnya.

Terakhir, Gobel menyoroti sumber daya manusia. Ia yakin, pertukaran guru dengan Jepang bisa jadi solusi. Dengan cara itu, kualitas pendidikan di timur diharapkan bisa terdongkrak, mengejar ketertinggalan yang selama ini terjadi.

Pertemuan itu sendiri dihadiri oleh delegasi Jepang yang dipimpin Ishida Masahiro. Anggotanya antara lain Adachi Masahi, Koga Chikage, dan Ueda Kiyoshi. Dari Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, hadir pula Atase Politik Tanaka Motoyasu dan Kumakura Aya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar