Di kompleks DPR RI, Ketua Grup Kerja Sama Bilateral Indonesia-Jepang, Rachmat Gobel, baru-baru ini memimpin sebuah pertemuan penting. Lawan bicaranya adalah sejumlah anggota parlemen Jepang. Inti pembicaraannya jelas: meminta Jepang lebih memerhatikan Indonesia bagian timur.
“Khususnya membantu pengadaan air bersih, pelatihan petani muda, dan pertukaran guru,” ujar Gobel melalui keterangan tertulisnya, Selasa (13/1).
Permintaan itu bukan tanpa alasan. Faktanya, ketimpangan antara wilayah barat dan timur Indonesia masih terasa sangat lebar. Kontribusi PDB Indonesia timur cuma 21 persen, jauh di bawah bagian barat yang menguasai 79 persen. Lebih memprihatinkan lagi, sembilan dari sepuluh provinsi termiskin di negeri ini ada di timur. Begitu juga dengan Indeks Pembangunan Manusia dan masalah ketidakcukupan pangan wilayah timur selalu mendominasi daftar terburuk.
Nah, dalam kerja sama bilateral, Indonesia sebenarnya adalah penerima terbesar program Official Development Assistance (ODA) dari Jepang. Angkanya mencapai 11,3 persen dari total bantuan untuk negara berkembang. Sejak dimulai tahun 1968, nilai bantuan ini sudah menumpuk hingga miliaran dolar AS.
Gobel menekankan, masalah air bersih di timur itu kompleks. “Agak sulit dan butuh biaya besar,” katanya. Dampaknya pun serius, langsung menyentuh kesehatan dan ancaman stunting.
Di sisi lain, soal pangan juga tak kalah pelik. Ada kendala logistik yang mahal, tapi juga persoalan budaya bertani yang perlu diubah. Untuk itulah, Gobel mengusulkan pelatihan bagi petani muda di Jepang, yang teknologinya sudah maju.
Artikel Terkait
Gejolak Iran dan Serangan di Laut Hitam Pacu Harga Minyak Melonjak
Minyak Mentah Melonjak 2,5%, Timah Jadi Bintang di Tengah Pelemahan Komoditas
Emas Ambil Napas Sejenak, Sentimen Hawkish The Fed dan Gejolak Global Jadi Penopang
IHSG Tersenyum Tipis, Tapi Ancaman Profit Taking Mengintai