BRI Cetak Sejarah dengan SBK Rp 500 Miliar, Dapat Restu Penuh BI dan OJK

- Selasa, 13 Januari 2026 | 09:12 WIB
BRI Cetak Sejarah dengan SBK Rp 500 Miliar, Dapat Restu Penuh BI dan OJK

Senin lalu (12/1/2026), suasana di BRILiaN Club cukup ramai. BRI secara resmi meluncurkan Surat Berharga Komersial atau SBK senilai Rp 500 miliar. Langkah ini bukan sekadar urusan pendanaan, tapi lebih sebagai penegasan posisi mereka di peta keuangan Indonesia. Mereka ingin dikenal sebagai pemain utama, sekaligus bagian dari strategi pengelolaan likuiditas jangka pendek yang berkelanjutan. Penerbitan ini juga sejalan dengan upaya Bank Indonesia untuk mendalami pasar keuangan nasional.

Acara itu sendiri dihadiri oleh sederet nama penting. Mulai dari Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, hingga jajaran pimpinan BRI seperti Direktur Utama Hery Gunardi. Tak ketinggalan, sejumlah mitra strategis dari dunia manajemen investasi turut hadir, misalnya Mandiri Manajemen Investasi, BRI Manajemen Investasi, dan Manulife.

Nah, soal kualitas, SBK ini dapat peringkat IdA dari Pefindo. Itu setara dengan AAA untuk utang jangka panjang. Peringkat ini jelas jadi sinyal kuat tentang keandalan BRI dalam memenuhi kewajibannya.

Yang menarik, BRI bekerjasama dengan BRI Danareksa Sekuritas sebagai arranger. Dan ini menjadikan mereka bank pertama di tanah air yang menerbitkan SBK, sebuah instrumen yang kini diakui berdasarkan aturan baru BI.

Ditawarkan dalam empat pilihan tenor, mulai dari satu hingga dua belas bulan, instrumen ini punya tingkat diskonto yang bervariasi antara 4,5% hingga 4,95%. Tujuannya bukan cuma untuk dana segar jangka pendek. Lebih dari itu, SBK BRI dirancang untuk memperkuat ekosistem pasar uang agar lebih transparan dan kompetitif.

Dalam sambutannya, Hery Gunardi menekankan bahwa SBK adalah solusi pendanaan yang cepat.

“Ini sekaligus menawarkan alternatif investasi dengan imbal hasil yang kompetitif bagi investor,” ujarnya.

Dia menambahkan, dengan struktur fleksibel dan tata kelola kuat, instrumen ini akan memperkuat pengelolaan likuiditas secara prudent.

“Kami meyakini ini jadi langkah awal memperkuat peran BRI. Ke depan, inovasi produk akan terus didorong dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan transparansi,” papar Hery.

Dari sisi regulator, apresiasi pun datang. Dian Ediana Rae dari OJK melihat langkah BRI ini sebagai wujud konkret peran perbankan.

“OJK memandang peluncuran SBK BRI sebagai langkah strategis. Ini memperkaya instrumen pasar uang, meningkatkan fleksibilitas pengelolaan keuangan, dan memperkuat disiplin pasar,” jelas Dian.

Di sisi lain, Destry Damayanti dari BI menyoroti pentingnya pendalaman pasar uang di tengah ketidakpastian global.

“Bank Indonesia mengapresiasi peran BRI yang konsisten mendukung pengembangan pasar keuangan nasional. Upaya bersama ini diharapkan memberi manfaat berkelanjutan,” tutur Destry.

Sebagai catatan, track record BRI dalam penerbitan surat utang sebenarnya sudah terbangun lama. Sejak 2016 hingga 2025, mereka rutin menerbitkan instrumen berperingkat tertinggi dari Pefindo. Itu semua menggambarkan profil permodalan yang kuat dan kualitas aset yang terjaga dengan baik.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar