Pensiunan JICT Tewas Dibegal di Bekasi, Pelaku Pilih Rumah Terbesar untuk Digasak

- Kamis, 12 Maret 2026 | 04:05 WIB
Pensiunan JICT Tewas Dibegal di Bekasi, Pelaku Pilih Rumah Terbesar untuk Digasak

Bekasi diguncang kabar buruk. Seorang pensiunan karyawan JICT, Ermanto Usman, dan istrinya diserang di rumah mereka sendiri. Aksi itu meninggalkan pemandangan yang mengenaskan keduanya bersimbah darah. Ternyata, motif di balik kekejaman ini sederhana sekaligus mengerikan: perampokan.

Ermanto tewas di tempat. Pelaku menghabisi nyawanya dengan linggis. Sementara sang istri, yang diketahui berinisial P, masih berjuang antara hidup dan mati di rumah sakit. Kondisinya dilaporkan kritis.

Polisi akhirnya menangkap pelakunya. Orang itu bernama Sudirman, atau kerap dipanggil Yuda. Dia diamankan di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, Senin sore kemarin tepat pukul 18.54.

Dari tangan pelaku, polisi menyita barang bukti yang cukup banyak. Ada linggis berdarah, tentu saja. Lalu uang tunai, tiga ponsel, satu unit laptop, dan bahkan sebuah gunting. Pelaku kabarnya menggasak apa saja yang dianggap berharga, mulai dari perhiasan sampai kunci mobil.

Motifnya ternyata spontan.

Dalam jumpa pers yang digelar Polda Metro Jaya, terungkap bahwa Ermanto dibunuh dalam rangkaian perampokan itu. Menariknya, pelaku tidak punya target spesifik. Rumah korban dipilih secara acak.

Dirkrimum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, menjelaskan hal ini Rabu lalu.

"Motif pencurian atau pembunuhan yang dilakukan dalam rangkaian pencurian oleh tersangka tersebut," tegas Iman.

Menurut sejumlah saksi dan pengakuan pelaku, rumah Ermanto menarik perhatian karena ukurannya. Itu rumah paling besar di sekitar situ. Di mata Sudirman, rumah besar berarti kemungkinan menyimpan banyak barang berharga.

"Pelaku melihat bahwa rumah tersebut adalah rumah paling besar sehingga pelaku mengira di sana bisa memperoleh cukup banyak benda barang yang dicari," jelas Iman lagi.

Singkatnya, ini adalah tragedi yang dipicu oleh keserakahan buta. Sebuah rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung, justru berubah menjadi lokasi pembantaian hanya karena terlihat mewah dari luar.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar