Pasar Modal Indonesia Pecahkan Rekor: Investor Tembus 20 Juta, Likuiditas Didominasi Ritel

- Jumat, 09 Januari 2026 | 11:30 WIB
Pasar Modal Indonesia Pecahkan Rekor: Investor Tembus 20 Juta, Likuiditas Didominasi Ritel

Peran mereka melonjak drastis. Proporsi transaksi investor ritel naik tajam dari 38 persen di 2024 menjadi 50 persen di 2025. Dampaknya langsung terasa pada likuiditas. Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) tahun 2025 melonjak ke Rp18,07 triliun, jauh dari angka Rp12,85 triliun di tahun sebelumnya. Bahkan, pada Desember 2025, RNTH bulanan sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level Rp27,19 triliun.

Tren positif ini ternyata merata. Indeks komposit ICBI naik 1,08 persen. Yield Surat Berharga Negara turun signifikan, sekitar 80,91 bps, yang menandakan penguatan harga obligasi. Aset yang dikelola industri pengelolaan investasi (AUM) tembus Rp1.033,81 triliun, tumbuh 23,49 persen. Kemudian, total nilai penawaran umum korporasi mencapai Rp274,80 triliun melampaui target awal yang ‘hanya’ Rp220 triliun. Sektor baru seperti bursa karbon juga mulai bergerak, mencatat 150 pengguna jasa dengan volume transaksi 1,81 juta ton CO2 senilai Rp87 miliar.

Dengan basis investor yang kini sangat luas, melewati 20 juta orang, OJK merasa perlu memperketat pengawasan. Komitmen perlindungan konsumen dan tata kelola emiten akan ditingkatkan. Salah satu buktinya adalah penerbitan POJK Nomor 40 Tahun 2025 yang mengatur secara ketat penggunaan dana hasil penawaran umum atau IPO.

Jadi, inilah wajah baru pasar modal Indonesia: lebih masif, lebih ritel, dan tentu saja, dengan tantangan pengawasan yang juga semakin kompleks.


Halaman:

Komentar