Larangan keras kini dikeluarkan pemerintah Indonesia terhadap daging babi asal Spanyol. Aturan ini tak main-main: barang yang masuk akan ditolak atau dimusnahkan begitu saja. Langkah drastis ini diambil setelah laporan resmi World Organisation for Animal Health (WOAH) mengonfirmasi wabah African Swine Fever (ASF) di Provinsi Barcelona.
Deputi Bidang Karantina Hewan Badan Karantina Indonesia, Sriyanto, menjelaskan dasar kebijakan ini. “Berdasarkan informasi dari WOAH Event ID 7065 Follow up Report 6 tanggal 19 Desember 2025, kami menginstruksikan agar seluruh unit pelaksana teknis Barantin dan petugas karantina melakukan kewaspadaan dan pengetatan terhadap lalu lintas daging babi maupun produknya dari Spanyol,” ungkapnya melalui keterangan tertulis (16/1).
Menurut Sriyanto, situasinya cukup mengkhawatirkan. WOAH menyatakan ini sebagai "recurrence of an eradicated disease" munculnya kembali penyakit yang sebenarnya sudah dinyatakan bebas sejak 1994. Kini statusnya "on-going outbreak" alias wabah masih berlangsung.
Maka, sebagai bentuk pertahanan, semua daging babi dari Spanyol dilarang masuk ke Indonesia. “Sampai situasi kesehatan hewan di Spanyol dinyatakan pulih berdasarkan laporan resmi WOAH,” tegasnya.
“Jika terjadi adanya pemasukan daging babi dari Spanyol, maka akan dilakukan tindakan karantina penolakan dan atau pemusnahan,”
Ia menegaskan, dukungan semua pihak sangat dibutuhkan. Instansi terkait harus gencar melakukan komunikasi dan edukasi ke masyarakat, terutama di titik-titik masuk seperti bandara, pelabuhan, dan pos perbatasan. Tujuannya, agar publik paham betul bahaya ASF.
Lalu, seberapa bahayanya penyakit ini? Demam babi Afrika disebabkan virus ASF yang sangat menular bagi babi liar maupun ternak. Angka kematiannya mengerikan, bisa mencapai 100 persen. Kabar baiknya, virus ini tidak berbahaya bagi manusia. Namun, dampak ekonominya bisa menghancurkan: populasi babi bisa ludes dan peternakan babi kolaps.
Masalahnya, virus ASF terkenal bandel. Ia bisa bertahan lama di lingkungan, menempel di pakaian, sepatu boot, roda kendaraan, atau permukaan barang lainnya. Bahkan pada produk olahan seperti ham, sosis, dan bacon, virus ini masih bisa hidup. Mobilitas manusia dan barang, menurut Sriyanto, jadi faktor kunci penyebarannya.
Itulah mengapa upaya pencegahan masuknya ASF ke Indonesia dinilai krusial. Bukan cuma untuk melindungi peternakan babi dari kerugian finansial besar, tapi juga mencegah ancaman yang lebih luas: kepunahan babi asli Indonesia.
Terakhir, Sriyanto mengimbau partisipasi masyarakat. “Jika menemukan lalu lintas komoditas hewan dan produknya yang dicurigai tidak memenuhi unsur perkarantinaan,” laporkan segera ke petugas karantina terdekat atau melalui WA Center Barantin di 08111920336.
Artikel Terkait
Analis Sucor: Saham Unggulan Tertekan Jauh di Bawah Nilai Wajar
Analis Proyeksikan IHSG Lanjutkan Penguatan, Waspadai Potensi Koreksi
AMOR Cairkan Dividen Interim Tahap II Rp28,6 Miliar, Yield 3,51%
BLUE Konfirmasi Akuisisi 80% Saham oleh Perusahaan Tambang Hong Kong