Di Pulau Saparua, Ambon, tantangan akses dan jarak adalah kenyataan sehari-hari. Tapi di tengah semua itu, ada sosok Selly. Seorang ibu rumah tangga yang kisahnya bikin kita merenung. Bagaimana tidak, dengan tekad bulat, ia membuka TK Sintiche secara gratis untuk anak-anak dari keluarga yang kurang mampu. Semua operasional sekolah ia tanggung sendiri, sampai-sampai pernah nyaris menyerah. Rasanya, panggilan hati untuk mendidik memang tak terbendung.
Namun begitu, semangatnya tak padam. Demi mempertahankan sekolah idamannya, Selly memberanikan diri membuka warung kecil. Lalu, di tahun 2022, jalan itu bertemu dengan program Mekaar dari PNM. Pertemuan itu memberinya akses modal dan juga pelatihan usaha. Hasilnya? Usahanya berkembang, sekolahnya pun akhirnya bisa terus bertahan. Bahkan kini, TK-nya juga menampung anak-anak dari nasabah Mekaar lainnya di sana.
Cerita Selly ini sederhana, tapi dampaknya luar biasa. Ia membuktikan bahwa dari pulau kecil dan peran seorang guru, bisa lahir kekuatan yang mengubah masa depan banyak anak.
Di sisi lain, perjalanannya tentu tidak berjalan sendirian. Dukungan dari Account Officer PNM Mekaar dan pertemuan rutin kelompok setiap minggu rupanya punya peran besar. Ruang belajar kolektif itu mengasah kepercayaan dirinya, sekaligus kapasitas kepemimpinan yang mungkin tak disadarinya.
“Dulu beta cuma pikir bagaimana caranya bantu ekonomi keluarga. Tapi sejak ikut Mekaar, beta belajar pimpin kelompok, saling berbagi, dan percaya kalau usaha kecil juga bisa berkembang asal jalan sama-sama,” ujar Selly.
“Dari pertemuan tiap minggu dan pendampingan itu, beta jadi lebih berani dan lebih yakin jalani semua.”
Intinya, ini cerita tentang harapan. PNM hadir bukan cuma soal pinjaman modal, tapi lebih pada menemani setiap langkah kecil. Lewat Mekaar, proses pembiayaan berubah jadi sebuah perjalanan belajar belajar menata usaha, menguatkan mental, dan bertumbuh bersama dalam kelompok yang saling menyokong.
Hasilnya bisa dilihat. Dari Customer Survey Indeks Mekaar 2024, tercatat 72 persen nasabah merasa perannya dalam pengambilan keputusan keluarga meningkat. Lalu, 74 persen mengaku pendapatannya naik setelah bergabung. Yang menarik, 78 persen sudah punya dan paham implementasi laporan keuangan bisnis. Dan yang paling menggembirakan, 90 persen merasakan dampak kemandirian finansial.
Menanggapi angka-angka ini, Sekretaris Perusahaan PNM, Dodot Patria Ary, punya penekanan yang berbeda.
“Ini bukan sekadar survei, di balik angka-angka ini, ada cerita tentang ibu-ibu yang kini lebih berani berpendapat di rumahnya, usaha yang perlahan tumbuh, dan keluarga yang mulai berdiri di atas kakinya sendiri,” tegasnya.
“Itulah adalah upaya kami untuk terus hadir di tengah masyarakat dan mendorong agar semakin banyak kisah Bu Selly lainnya dari seluruh Indonesia.”
Dari pertemuan ke pertemuan, perlahan-lahan kapasitas mereka ditumbuhkan. Mereka yang dulu mungkin cuma bertahan, kini mulai punya keyakinan untuk bermimpi lebih jauh. Dan berjalan lebih mantap menuju masa depan.
Artikel Terkait
Metland Targetkan Marketing Sales Rp2 Triliun pada 2026
Hong Kong Salip Swiss sebagai Pusat Kekayaan Lintas Batas Terbesar Dunia
Metland Bagikan Dividen Rp74,2 Miliar dari Laba 2025, Setara Rp9,7 per Saham
PT Daaz Bara Lestari Nilai Kebijakan Ekspor Satu Pintu Tak Berdampak Material pada Kinerja