Wall Street Cetak Rekor Baru, Didorong Aksi Militer AS di Venezuela

- Selasa, 06 Januari 2026 | 06:45 WIB
Wall Street Cetak Rekor Baru, Didorong Aksi Militer AS di Venezuela

Wall Street kembali menunjukkan taringnya di awal tahun. Pada sesi Senin (5/1) waktu setempat, bursa saham AS ditutup menguat, dengan Dow Jones melesat ke rekor tertinggi baru yang mencengangkan. Pendorong utamanya? Lonjakan tajam di sektor keuangan, ditambah sentimen panas dari sektor energi yang ikut meroket. Aksi militer AS di Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro, rupanya jadi katalis yang dinanti-nanti pasar.

Angkanya cukup solid. Indeks S&P 500 bertambah 0,64 persen, menguat ke posisi 6.902,05. Nasdaq tak ketinggalan, naik 0,69 persen ke 23.395,82. Tapi panggung benar-benar milik Dow Jones Industrial Average yang melonjak 1,23 persen, menembus level 48.977,18. Sebuah pencapaian bersejarah.

Di balik kenaikan itu, ada optimisme yang nyaris teraba. Investor seolah bertaruh bahwa langkah Washington di Caracas akan membuka keran bagi perusahaan-perusahaan AS. Targetnya jelas: cadangan minyak Venezuela yang sangat besar. Kabarnya, pemerintahan Trump bahkan berencana ngobrol dengan para bos perusahaan minyak AS pekan ini. Agenda utamanya, bagaimana caranya meningkatkan produksi di negara Amerika Selatan itu.

Efeknya langsung terasa. Indeks energi S&P 500 melonjak 2,7 persen, mencapai level tertinggi sejak Maret tahun lalu. Raksasa seperti Exxon Mobil dan Chevron sama-sama terbang tinggi. Tak cuma minyak, produsen senjata seperti Lockheed Martin dan General Dynamics juga ikut naik. Indeks dirgantara dan pertahanan S&P 500 pun mencatatkan rekor baru.

Rob Haworth, seorang strategis investasi senior di U.S. Bank Wealth Management di Seattle, punya penjelasannya.

"Saham energi benar-benar diuntungkan oleh ekspektasi bahwa Trump berniat mendorong mereka untuk berinvestasi lebih besar di Venezuela. Pada akhirnya, ini soal peluang menghasilkan lebih banyak keuntungan," ujarnya.

Di tengah euforia itu, ada juga pergerakan menarik dari saham-saham teknologi. Tesla, misalnya, berhasil bangkit 3,1 persen setelah terpuruk tujuh hari berturut-turut. Namun, tidak semua ikut merayakan. Nvidia sedikit melemah 0,4 persen, sementara Apple tercatat turun 1,4 persen.

Kembali ke sektor keuangan, kenaikannya memang fenomenal. Indeks sektor tersebut di S&P 500 melesat 2,2 persen. Pasar tampaknya sedang menanti-nanti laporan keuangan kuartalan. Analis memprediksi, laba perusahaan di sektor ini bisa tumbuh rata-rata 6,7 persen secara tahunan untuk kuartal Desember. Saham seperti Goldman Sachs dan JPMorgan Chase merespons positif, naik lebih dari 3 persen dan juga mencetak rekor tertinggi mereka sendiri.

Pencapaian Wall Street sepanjang 2025 memang patut diacungi jempol. Indeks-indeks utamanya berhasil mencatatkan kenaikan dua digit untuk tahun ketiga berturut-turut sebuah prestasi yang terakhir kali terjadi di tahun 2021. Tapi, di balik gemerlap angka, data ekonomi riil sedikit banyak mengingatkan kita pada tantangan. Aktivitas manufaktur AS, contohnya, masih terkontraksi lebih dalam dari perkiraan di bulan Desember. Itu artinya, tren pelemahan sudah berlangsung selama sepuluh bulan penuh.

Kini, semua mata tertuju pada laporan pekerjaan nonfarm yang akan dirilis Jumat mendatang. Data itu berpotensi besar memengaruhi langkah The Fed di tahun 2026. Berdasarkan pantauan LSEG, pasar saat ini memperkirakan akan ada pelonggaran suku bunga sekitar 60 basis poin sepanjang tahun ini. Menunggu memang, tapi sesi Senin ini setidaknya memberi awal yang cukup bersemangat.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar