Wacana jembatan penghubung Melaka dan Dumai kembali mencuat. Pemerintah negara bagian Melaka, Malaysia, tampaknya serius kali ini. Mereka bahkan sudah menyiapkan anggaran khusus, sekitar RM 500 ribu atau setara Rp 2 miliar lebih, untuk mendanai studi kelayakan. Tujuannya jelas: mengkaji aspek teknis, ekonomi, dan logistik dari mega proyek yang membentang sepanjang 47 kilometer itu.
Namun begitu, antusiasme itu tak sepenuhnya disambut hangat di Indonesia. Bagi sejumlah pengamat, rencana ini justru menyimpan sejumlah kekhawatiran yang tidak main-main.
Yayat Supriatna, seorang pengamat tata ruang dari Universitas Trisakti, melihat ada ketimpangan yang menganga. Menurutnya, Malaysia bisa jadi pihak yang paling diuntungkan. Alasannya sederhana: negeri jiran itu punya banyak investasi perkebunan kelapa sawit di Sumatera, khususnya di Riau dan Jambi.
"Kalau jembatan jadi, sawit setengah jadi bisa dengan mudah dibawa ke Malaysia untuk diolah jadi produk akhir. Mereka kan sudah punya industrinya yang siap," kata Yayat.
Ia melanjutkan, "Alhasil, nilai tambah dari pengolahan itu tidak kita dapatkan di sini. Yang terjadi justru ketimpangan ekonomi, ketimpangan infrastruktur. Ini yang harus diwaspadai."
Bagi Yayat, perhitungan proyek semacam ini tidak boleh hanya dilihat dari kacamata ekonomi semata. Ada hal lain yang lebih pelik, seperti masalah keamanan dan arus migran.
"Jangan sampai nanti aturan masuk ke Malaysia ketat, sementara ke Indonesia longgar. Bisa kacau. Jadi pendekatannya harus holistik, mencakup politik dan keamanan juga," tegasnya.
Ia juga menyayangkan kurangnya antusiasme Indonesia. Sebaliknya, Malaysia terlihat jauh lebih bersemangat. "Mereka sudah tahu kelemahan kita di mana. Sementara kita, mapping-nya saja belum jelas, mau pakai skema B2B atau pemerintah ke pemerintah. Wacananya sendiri sebenarnya sudah lama beredar," ujar Yayat.
Artikel Terkait
Komisaris PT Panca Mitra Mundur, Kesibukan Luar Jadi Alasan
Singtel Tunjuk Lionel Chng Gantikan Derrick Heng di Posisi Direktur Marketing Telkomsel
Purbaya Beri Mandat Baru, LPEI Dituntut Jadi Katalis Ekspor Nasional
Danantara Pacu Kompleks Haji di Makkah, Thakher Jadi Fondasi Awal