Pasar busana muslim di Indonesia memang luar biasa besar. Persaingannya? Sangat ketat. Di satu sisi, merek-merek lokal terus bermunculan. Di sisi lain, brand internasional juga tak mau kalah berebut perhatian. Dalam situasi seperti ini, UMKM lokal dituntut untuk punya sesuatu yang beda, sesuatu yang unik, kalau mau bertahan dan berkembang.
Nah, salah satu yang mencoba menjawab tantangan itu adalah YUSUF.IND. Didirikan Hendra Mochamad Yusuf di tahun 2022, bisnis ini lahir dari sebuah pengamatan. Menurut Yusuf, banyak produk lokal yang kualitasnya bagus, tapi sayangnya kurang punya identitas yang kuat. Mereka seperti tenggelam di tengah hiruk-pikuk pasar. Belum lagi, isu limbah fesyen dan dampak buruk fast fashion terhadap lingkungan semakin mengkhawatirkan. Hal-hal itulah yang kemudian jadi fondasi utama YUSUF.IND.
“Banyak produk lokal sebenarnya bagus, tetapi tidak punya positioning yang kuat. Untuk itu YUSUF.IND hadir untuk menjawab semua tantangan dengan mengangkat sustainability fashion dan menghadirkan desain modern,” ujar Yusuf.
Ciri utamanya ada pada tenun Baduy. Kain tradisional ini kemudian diolah dengan sentuhan modern, elegan, dan sedikit nuansa Arabic look. Warna-warnanya pun dipilih dengan hati. Hitam yang elegan, biru khas Baduy, sampai warna-warna bumi yang hangat. Setiap karya yang dihasilkan seolah bercerita tentang suku Baduy, sekaligus jadi upaya melestarikan budaya dan mempromosikan wisata lokal.
Tak cuma soal desain, komitmen terhadap keberlanjutan budaya juga diwujudkan dengan memberdayakan penjahit lokal. Limbah kain pun tidak dibuang percuma, melainkan diolah lagi jadi produk turunan.
Perjalanan dua tahun ternyata cukup membuahkan hasil. Produk YUSUF.IND sekarang sudah bisa ditemui di berbagai kota besar, dari Jakarta, Bandung, sampai Makassar dan Samarinda. Bahkan, daya tariknya sudah merambah ke mancanegara lewat pesanan yang dikirim ke Malaysia, Brunei, Singapura, dan Hong Kong.
“Penjualan dilakukan melalui jaringan reseller yang tersebar di seluruh Indonesia. Kemudian, kita optimalkan di marketplace dan media sosial. Saat ini kapasitas produksi YUSUF.IND mencapai 200–400 pcs per bulan, dan omzet meningkat signifikan saat musim Ramadan,” ucapnya.
Yusuf mengaku, semua ini tak lepas dari dukungan ekosistem pendampingan UMKM dari BRI. Ia mengikuti program Rumah BUMN Jakarta di tahun 2023. Sejak itu, ia aktif mengikuti berbagai pelatihan, termasuk Growpreneur by BRI pada 2024, untuk memperkuat bisnisnya.
Manfaatnya ternyata banyak sekali. Mulai dari pelatihan branding dan keuangan, persiapan ekspor, sampai kesempatan tampil di pameran seperti BRI UMKM EXPO. Jaringan pun bertambah luas, baik ke buyer potensial, sesama pelaku UMKM, maupun mentor bisnis.
“Pendampingan BRI membantu kami meningkatkan kualitas manajemen usaha sekaligus memperluas eksposur produk ke pasar yang lebih luas. Kami juga mendapatkan peluang pembiayaan untuk scale-up usaha. Ini sangat berarti bagi perkembangan jangka panjang YUSUF.IND,” kata Yusuf.
Di kesempatan lain, Corporate Secretary BRI, Dhanny, turut menegaskan komitmen bank tersebut.
“BRI berkomitmen mendukung UMKM melalui pendampingan, pelatihan, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar. Upaya ini kami jalankan secara berkelanjutan agar UMKM dapat tumbuh lebih kuat dan berdaya saing sampai ke level global,” ujarnya.
Jadi, cerita YUSUF.IND ini bukan sekadar soal bisnis fesyen yang tumbuh. Lebih dari itu, ini tentang bagaimana sebuah brand bisa punya roh, punya cerita, dan tetap berdiri di atas nilai-nilai yang ia pegang teguh.
Artikel Terkait
Agrinas Impor 105.000 Pikap dari India untuk Dukung Logistik Koperasi Desa
BPJS Kesehatan: Iuran dan Tunggakan Berlaku per Kartu Keluarga, Bukan Per Individu
Rupiah Melemah 0,30% dalam Sepekan, Tertekan Sinyal Hawkish The Fed
PT Matahari Putra Prima Gelar Rights Issue Rp780 Miliar untuk Beli Aset dan Perbaiki Struktur Keuangan