Harga minyak dunia bakal terpengaruh. Pemicunya? Serangan Amerika Serikat ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Ini bukan negara sembarangan, lho. Venezuela punya cadangan minyak mentah yang luar biasa besar, salah satu yang terbesar di planet ini.
Menurut data dari BP Statistical Review of World Energy Report, cadangannya mencapai 303 miliar barel. Angka fantastis itu setara dengan seperlima dari total cadangan minyak global. Jadi, gejolak di sana pasti berimbas ke pasar.
Nah, sebelum serangan terjadi, harga minyak sebenarnya sudah melemah di akhir pekan. Minyak Brent turun tipis 10 sen ke posisi USD 60,75 per barel. Sementara minyak mentah WTI dari AS juga anjlok 10 sen, menjadi USD 57,32 per barel.
Tapi, bagaimana kondisi produksinya pasca-serangan? Menurut sumber internal di PDVSA, perusahaan minyak negara Venezuela, operasi produksi dan penyulingan berjalan normal pada Sabtu (3/1). Tidak ada laporan kerusakan fasilitas.
Memang, Pelabuhan La Guaira dekat Caracas yang jadi sasaran serangan mengalami kerusakan parah. Namun begitu, pelabuhan itu bukan untuk ekspor minyak. Jadi, dampaknya terhadap pasokan minyak secara langsung terbatas.
Namun, akar masalahnya sudah dimulai sebelum tembakan pertama. Presiden AS Donald Trump sudah lebih dulu mengencangkan tekanan pada hari Rabu (31/12) dengan menjatuhkan sanksi. Sasaran sanksinya adalah empat perusahaan plus kapal tanker yang diduga beroperasi di sektor minyak Venezuela.
Dampaknya langsung terasa. Ekspor minyak Venezuela bulan lalu anjlok, tinggal separuh dari angka 950.000 barel per hari yang berhasil dikirim pada November.
Langkah AS itu bikin kapal-kapal banyak yang minggir, menghindari perairan Venezuela. Alhasil, persediaan minyak mentah dan bahan bakar PDVSA menumpuk. Perusahaan pun kelabakan. Mereka terpaksa memperlambat pengiriman di beberapa pelabuhan dan menyimpan minyak di atas kapal tanker. Semua itu dilakukan cuma untuk menghindari pemangkasan produksi.
Di sisi lain, PDVSA sendiri sebenarnya belum sepenuhnya bangkit. Sistem administrasi mereka masih berusaha pulih dari serangan siber yang terjadi Desember lalu. Serangan digital itu memaksa mereka mengisolasi terminal, ladang, dan kilang dari sistem pusat. Untuk sementara, operasionalnya mengandalkan pencatatan manual yang tentu saja ribet.
Jadi, meski fasilitas fisiknya utuh, badai politik dan tekanan sanksi ini yang benar-benar mengancam aliran minyak Venezuela ke pasar dunia.
Artikel Terkait
Analis Proyeksikan IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan Pekan Depan
Wall Street Hadapi Pekan Penuh Tantangan: Laporan Nvidia dan Dampak Putusan Tarif Trump Jadi Sorotan
Agrinas Impor 105.000 Pikap dari India untuk Dukung Logistik Koperasi Desa
BPJS Kesehatan: Iuran dan Tunggakan Berlaku per Kartu Keluarga, Bukan Per Individu