Namun, akar masalahnya sudah dimulai sebelum tembakan pertama. Presiden AS Donald Trump sudah lebih dulu mengencangkan tekanan pada hari Rabu (31/12) dengan menjatuhkan sanksi. Sasaran sanksinya adalah empat perusahaan plus kapal tanker yang diduga beroperasi di sektor minyak Venezuela.
Dampaknya langsung terasa. Ekspor minyak Venezuela bulan lalu anjlok, tinggal separuh dari angka 950.000 barel per hari yang berhasil dikirim pada November.
Langkah AS itu bikin kapal-kapal banyak yang minggir, menghindari perairan Venezuela. Alhasil, persediaan minyak mentah dan bahan bakar PDVSA menumpuk. Perusahaan pun kelabakan. Mereka terpaksa memperlambat pengiriman di beberapa pelabuhan dan menyimpan minyak di atas kapal tanker. Semua itu dilakukan cuma untuk menghindari pemangkasan produksi.
Di sisi lain, PDVSA sendiri sebenarnya belum sepenuhnya bangkit. Sistem administrasi mereka masih berusaha pulih dari serangan siber yang terjadi Desember lalu. Serangan digital itu memaksa mereka mengisolasi terminal, ladang, dan kilang dari sistem pusat. Untuk sementara, operasionalnya mengandalkan pencatatan manual yang tentu saja ribet.
Jadi, meski fasilitas fisiknya utuh, badai politik dan tekanan sanksi ini yang benar-benar mengancam aliran minyak Venezuela ke pasar dunia.
Artikel Terkait
BI Sebut Ruang Turunkan Suku Bunga Makin Sempit Imbas Gejolak Global
PT Asia Pramulia Beralih ke Impor Bahan Baku Akibat Konflik Timur Tengah
AISA Rencanakan Kuasi Reorganisasi untuk Hapus Akumulasi Kerugian Rp2,7 Triliun
Wall Street Melonjak Usai Gencatan Senjata AS-Iran-Israel, Harga Minyak Anjlok