Hasilnya? Sungguh mencengangkan. Secara kolektif, saham-saham itu kini nilainya melonjak lebih dari 100 miliar dolar AS dari harga belinya. Itu belum termasuk deretan dividen yang mengalir deras ke kas Berkshire selama puluhan tahun.
Namun begitu, mungkin yang paling mengejutkan adalah investasinya di Apple.
Buffett pernah mengaku gagap teknologi. Ia merasa tidak cukup paham untuk memilih pemenang di industri yang cepat berubah itu. Tapi pada 2016, ia mulai membeli saham Apple. Alasannya ternyata sederhana. Ia tidak melihat Apple sebagai perusahaan teknologi murni, melainkan sebagai merek konsumen yang kuat dengan basis pelanggan fanatik.
"Saya melihatnya sebagai perusahaan produk konsumen dengan pelanggan yang sangat loyal," begitu kira-kira penjelasannya.
Keputusan itu terbukti sangat tepat. Investasi awal sekitar 31 miliar dolar AS itu membengkak menjadi lebih dari 174 miliar dolar, sebelum akhirnya Berkshire mulai melakukan pelepasan saham secara bertahap. Sebuah langkah yang menunjukkan, bahkan di usia senja, insting Buffett tetap tajam.
Artikel Terkait
INET (Sinergi Inti Andalan Prima) Ekspansi ke Bisnis Perdagangan Peralatan Telekomunikasi
IHSG Naik 6,14%, Saham TRUK Melonjak Lebih dari 100%
Harga CPO Anjlok 6% dalam Seminggu, Pasar Khawatir Produksi Musiman Kalahkan Permintaan
Zyrex Dapat Kredit Rp178,8 Miliar dari Bank Permata untuk Ekspansi