Hasilnya? Sungguh mencengangkan. Secara kolektif, saham-saham itu kini nilainya melonjak lebih dari 100 miliar dolar AS dari harga belinya. Itu belum termasuk deretan dividen yang mengalir deras ke kas Berkshire selama puluhan tahun.
Namun begitu, mungkin yang paling mengejutkan adalah investasinya di Apple.
Buffett pernah mengaku gagap teknologi. Ia merasa tidak cukup paham untuk memilih pemenang di industri yang cepat berubah itu. Tapi pada 2016, ia mulai membeli saham Apple. Alasannya ternyata sederhana. Ia tidak melihat Apple sebagai perusahaan teknologi murni, melainkan sebagai merek konsumen yang kuat dengan basis pelanggan fanatik.
"Saya melihatnya sebagai perusahaan produk konsumen dengan pelanggan yang sangat loyal," begitu kira-kira penjelasannya.
Keputusan itu terbukti sangat tepat. Investasi awal sekitar 31 miliar dolar AS itu membengkak menjadi lebih dari 174 miliar dolar, sebelum akhirnya Berkshire mulai melakukan pelepasan saham secara bertahap. Sebuah langkah yang menunjukkan, bahkan di usia senja, insting Buffett tetap tajam.
Artikel Terkait
Target PNBP Migas Meleset, Harga Minyak Dunia Anjlok Jadi Biang Kerok
Target Penerimaan Migas Jeblok, Bahlil Soroti Harga Minyak yang Anjlok
IHSG Tembus 9.000, Purbaya: Ini Baru Awal
Bursa Venezuela Meledak, Politik Trump Jadi Pemicu?