“Tren diversifikasi cadangan resmi dan portofolio investor ke emas masih panjang,” katanya. Meski begitu, perjalanannya tak akan berlangsung lurus; akan ada pasang surut.
Di sisi lain, Morgan Stanley punya pandangan yang sedikit lebih berhati-hati. Mereka memandang kenaikan harga emas pada 2026 akan lebih moderat dibanding tahun sebelumnya. Proyeksi mereka untuk kuartal IV-2026 adalah USD 4.800 per ons.
Alasannya? Penurunan pembelian oleh bank sentral dan ETF diperkirakan bakal jadi rem. Tapi, pemangkasan suku bunga dan pelemahan dolar AS diyakini tetap bisa menopang harga. Mereka juga menyoroti permintaan ritel dari China dan kekhawatiran akan pertumbuhan global sebagai faktor pendukung.
Tak ketinggalan, HSBC juga masuk dalam barisan yang bullish. Dalam risetnya pertengahan Oktober 2025, bank ini memperkirakan reli emas berlanjut dan berpotensi mencapai USD 5.000 per ons di paruh pertama 2026. Bahan bakarnya macam-macam: ketegangan geopolitik, pembelian agresif bank sentral, arus masuk dana ke ETF, dan ekspektasi penurunan suku bunga AS.
Lalu, bagaimana kondisi pasar saat ini? Pada perdagangan terakhir di 31 Desember 2025, emas spot bergerak di kisaran USD 4.320 per ons. Pasca-libur, volatilitasnya sangat tinggi. Harganya sempat anjlok di Senin, pulih di Selasa, lalu melemah lagi di Rabu. Fluktuasi tajam ini sampai mendorong CME Group menaikkan persyaratan margin dua kali berturut-turut.
Secara tahunan, performa emas sungguh luar biasa. Catatan kenaikannya adalah yang terbaik sejak 1979! Semua didorong oleh lonjakan permintaan sebagai aset lindung nilai di tengah risiko geopolitik dan pemangkasan suku bunga The Fed.
Ada juga fenomena yang disebut debasement trade kekhawatiran akan inflasi dan membengkaknya utang negara maju yang ikut menyulut reli tajam ini. Sebagai pasar yang jauh lebih besar, emas berhasil menyedot dana masif ke ETF berbasis bullion. Sementara itu, bank sentral terus membeli, melanjutkan tren yang sudah berjalan bertahun-tahun.
Hasilnya? Sepanjang tahun ini, harga emas melonjak sekitar 64 persen. Angka itu dengan tegas menegaskan kembali statusnya: sebagai pelindung nilai utama di tengah ketidakpastian global yang rasanya belum akan segera reda.
Artikel Terkait
BEI Bidik Peringkat 10 Besar Global, Targetkan Transaksi Harian Rp 15 Triliun
Operasional Vale Terhenti, Sahamnya Malah Meroket
600 Huntara Siap Huni di Aceh Tamiang, Target 15.000 Unit dalam Tiga Bulan
IHSG Sentuh 8.680 di Pembukaan Perdagangan Awal 2026