Nah, di sesi terakhir tahun ini, tekanan justru datang dari sektor energi dan teknologi. Saham seperti Microsoft dan EQT Corp termasuk yang menekan pasar. Namun begitu, banyak analis melihat pelemahan ini wajar saja. Ini cuma aksi koreksi dan ambil untung di tengah likuiditas yang memang sedang tipis.
“Koreksi di akhir tahun dalam kondisi likuiditas rendah adalah hal yang normal,” kata seorang analis pasar.
Di antara semua saham AI, Nvidia jelas jadi bintang paling terang. Sahamnya melonjak 39 persen sepanjang 2025 dan sukses menjadi perusahaan publik pertama yang nilai pasarnya tembus USD 5 triliun. Sektor jasa komunikasi di S&P 500 juga jadi yang terbaik, didorong kinerja gemilang saham Alphabet.
Ke depan, semua mata kini tertuju ke The Fed. Kebijakan moneter bank sentral AS itu diprediksi akan sangat mempengaruhi dinamika pasar global di tahun 2026. Volume perdagangan kemarin sendiri relatif sepi menyambut libur Tahun Baru, dengan jumlah saham yang jatuh jauh lebih banyak ketimbang yang naik.
Artikel Terkait
Pemprov DKI Potong BPHTB 50% untuk Pembeli Rumah Pertama di Bawah Rp500 Juta
Laba Bersih Trisula International Melonjak 33% pada 2025 Didorong Ekspor
BSA Logistics Targetkan Rp302 Miliar dari IPO, Mayoritas untuk Akuisisi Perusahaan Afiliasi
WIKA Pangkas Utang Rp3,87 Triliun Meski Rugi Bersih Membengkak