Wall Street Tutup Tahun dengan Catatan Merah, Meski 2025 Tetap Cetak Kenaikan Fantastis

- Jumat, 02 Januari 2026 | 06:06 WIB
Wall Street Tutup Tahun dengan Catatan Merah, Meski 2025 Tetap Cetak Kenaikan Fantastis

Wall Street mengakhiri tahun 2025 dengan catatan merah. Di hari terakhir perdagangan, Rabu (31/12), sentimen ambil untung mendominasi, membuat indeks utama AS terkikis.

Pasar global sendiri memang masih terasa lesu. Di tengah kondisi itu, banyak investor memilih mengamankan keuntungan mereka, terutama dari aset-aset seperti logam mulia, setelah melalui satu tahun yang penuh gejolak.

Mengutip Reuters, Dow Jones Industrial Average anjlok 303,77 poin. Sementara itu, S&P 500 juga ikut terpuruk. Nasdaq Composite tak luput dari tekanan, turun 177,09 poin atau sekitar 0,76 persen ke level 23.241,99.

Tapi jangan salah. Jika dilihat dari kaca mata yang lebih luas, performa sepanjang 2025 justru sangat impresif. Ini adalah tahun ketiga berturut-turut pasar saham AS berada di zona hijau, dengan kenaikan yang cukup solid.

Secara tahunan, ketiga indeks utama itu membukukan kenaikan dua digit. S&P 500 naik 16,39 persen, Nasdaq melonjak 20,36 persen, dan Dow Jones menguat 12,97 persen. Semua itu tak lepas dari euforia besar-besaran terhadap saham-saham berbasis kecerdasan buatan atau AI, yang berhasil membawa indeks ke rekor tertinggi baru, meski tahun ini juga diwarnai ketidakpastian kebijakan dari pemerintahan Donald Trump.

Nah, di sesi terakhir tahun ini, tekanan justru datang dari sektor energi dan teknologi. Saham seperti Microsoft dan EQT Corp termasuk yang menekan pasar. Namun begitu, banyak analis melihat pelemahan ini wajar saja. Ini cuma aksi koreksi dan ambil untung di tengah likuiditas yang memang sedang tipis.

“Koreksi di akhir tahun dalam kondisi likuiditas rendah adalah hal yang normal,” kata seorang analis pasar.

Di antara semua saham AI, Nvidia jelas jadi bintang paling terang. Sahamnya melonjak 39 persen sepanjang 2025 dan sukses menjadi perusahaan publik pertama yang nilai pasarnya tembus USD 5 triliun. Sektor jasa komunikasi di S&P 500 juga jadi yang terbaik, didorong kinerja gemilang saham Alphabet.

Ke depan, semua mata kini tertuju ke The Fed. Kebijakan moneter bank sentral AS itu diprediksi akan sangat mempengaruhi dinamika pasar global di tahun 2026. Volume perdagangan kemarin sendiri relatif sepi menyambut libur Tahun Baru, dengan jumlah saham yang jatuh jauh lebih banyak ketimbang yang naik.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar