Gubernur Papua Minta Maaf, Ibu Hamil dan Bayinya Tewas Usai Ditolak Empat Rumah Sakit

- Minggu, 23 November 2025 | 12:40 WIB
Gubernur Papua Minta Maaf, Ibu Hamil dan Bayinya Tewas Usai Ditolak Empat Rumah Sakit
Tragedi Pelayanan Kesehatan di Papua

Ibu Hamil dan Bayinya Tewas Usai 'Ditolak' Empat Rumah Sakit, Gubernur Papua Minta Maaf

Sebuah peristiwa tragis mengguncang Jayapura. Irene Sokoy, seorang wanita hamil, beserta bayi dalam kandungannya, meninggal dunia. Mereka berpulang setelah ditolak oleh tidak kurang dari empat rumah sakit di wilayah Kabupaten dan Kota Jayapura, Papua.

Gubernur Papua, Matius D Fakhiri, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia secara terbuka meminta maaf dan menyebut insiden memilukan ini adalah buah dari kesalahan jajaran pemerintah di Papua.

Irene, warga Kampung Hobong, Distrik Sentani, akhirnya menghembuskan napas terakhir dalam perjalanan yang melelahkan. Saat itu mobil yang membawanya sedang bolak-balik menuju RSUD Dok II Jayapura. Semuanya terjadi pada Senin (17/11) dini hari, sekitar pukul 05.00 WIT, setelah sejumlah rumah sakit menutup pintu mereka.

Kepala Kampung Hobong, Abraham Kabey, dengan nada sedih mengonfirmasi kabar duka ini.

"Kematian seorang ibu hamil Irene Sokoy dan bayinya adalah tragedi yang memilukan. Empat rumah sakit diduga menolak korban," ujarnya.

Abraham menegaskan bahwa penolakan berturut-turut dari empat fasilitas kesehatan itu terasa sangat menyakitkan bagi seluruh masyarakat yang mendengarnya.

Di sisi lain, suami almarhum, Neil Kabey, menyimpan kekecewaan yang mendalam. Menurut pengakuannya, pada saat istrinya paling membutuhkan pertolongan medis darurat, justru tidak ada seorang dokter pun yang bisa ditemui.

"Kalau saat itu di RSUD Yowari ada dokter, saya yakin istri dan anak saya masih hidup," ujar Neil dengan suara lirih, penuh penyesalan. "Kenapa tidak ada dokter pengganti jika memang dokter saat itu tidak ada?"

Menanggapi tragedi ini, Gubernur Matius D Fakhiri tak tinggal diam. Ia menyampaikan permohonan maaf dan berduka yang sedalam-dalamnya. Baginya, peristiwa ini adalah gambaran nyata dari buruknya sistem pelayanan medis di Papua.

"Saya baru mau memulai, tetapi Tuhan sudah memberikan satu contoh kebobrokan pelayanan kesehatan di provinsi di Papua," kata Fakhiri dalam keterangannya. "Saya mohon maaf dan turut berduka yang mendalam atas kejadian dan kebodohan jajaran pemerintah mulai dari atas sampai ke tingkat bawah. Ini kebodohan yang luar biasa yang dilakukan oleh pemerintah."

Tak cuma meminta maaf, Gubernur juga berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh. Langkah tegas akan diambil, termasuk mengganti semua direktur rumah sakit yang berada di bawah Pemerintah Provinsi Papua. Fakhiri juga mengungkapkan bahwa banyak peralatan medis yang rusak karena diabaikan oleh para direktur tersebut.

Ia menambahkan, "Hal ini sudah saya minta langsung ke Menteri Kesehatan untuk memperbaiki pelayanan kesehatan di rumah sakit yang ada di Provinsi Papua. Saya yakin ada sekat-sekat yang merusak pelayanan akan diperbaiki ini."

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar