Yang lebih licik adalah serangan Enterocytozoon hepatopenaei (EHP). Penyakit ini jarang membunuh, tapi membuat udang kerdil, pertumbuhannya lambat, dan ukurannya tidak seragam. Pasar jelas tidak suka.
Belum lagi masalah sejak benur, seperti Translucent Post Larvae Disease, yang menggagalkan siklus budidaya sejak awal. Semuanya berujung pada satu hal: biaya membengkak, panen tidak optimal, dan mutu yang naik-turun.
Memaksakan intensifikasi tanpa menguasai kualitas air dan kesehatan udang, ibarat membangun rumah di atas pasir. Risikonya besar, dan efisiensi jangka panjang justru merosot.
Jebakan Harga Murah
Harga murah mungkin menyenangkan konsumen. Tapi bagi petambak, ini sinyal bahaya. Margin mereka menipis, kemampuan untuk berinvestasi kembali melemah. Banyak yang terancam gulung tikar.
Dalam jangka panjang, kita berisiko terjebak. Hanya jadi pemasok udang murah dengan segudang risiko. Padahal, kepercayaan pasar adalah aset strategis. Kalau itu hilang, harga akan jatuh terlepas dari berapa ton pun udang yang kita hasilkan.
Jalan Keluar: Bukan Sekadar Pilihan
Di sinilah traceability atau ketertelusuran bukan lagi sekadar wacana. Ini kebutuhan mendesak. Pasar global menuntut data yang jelas: dari mana benurnya, pakannya apa, bagaimana kesehatan udang dipantau, sampai proses penanganannya.
Tanpa sistem itu, satu kasus di satu tambak bisa dengan mudah dicap sebagai aib nasional. Sebaliknya, dengan data yang transparan, pelaku usaha punya bukti untuk membela diri dan menunjukkan bahwa mereka bekerja secara bertanggung jawab.
Konsumen pun sekarang lebih kritis. Mereka lebih menghargai produk yang aman, mutunya terjaga, dan asal-usulnya jelas. Banyak yang bahkan rela bayar lebih mahal untuk jaminan itu.
Menatap 2026 dengan Waspada
Jadi, anjloknya harga di akhir 2025 ini harus dibaca sebagai alarm. Peringatan keras bahwa strategi mengandalkan volume produksi semata sudah usang. Masa depan industri udang kita ditentukan oleh seberapa kuat fondasi biologis, manajerial, dan kepercayaan yang kita bangun.
Kalau momentum ini ditangkap dengan serius dengan perbaikan biosekuriti, penerapan traceability, dan fokus pada kualitas maka Indonesia punya peluang. Bukan sekadar dikenal sebagai produsen udang raksasa, tapi sebagai produsen udang yang sehat, transparan, dan bisa dipercaya. Di pasar global yang semakin berhati-hati, reputasi itulah yang akan menentukan harga, dan masa depan.
Artikel Terkait
Chandra Asri Resmi Kuasai Jaringan SPBU Esso Singapura
Tiket KAI Tembus 3,9 Juta, Stasiun Utama Jawa Diserbu Penumpang Nataru
Ragunan Dibanjiri 113 Ribu Pengunjung di Hari Pertama 2026
Pemerintah Tarik Rp 75 Triliun dari Bank, Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Tembus 6%