Anjloknya Harga Udang: Alarm Keras bagi Industri yang Terlalu Percaya Diri

- Kamis, 01 Januari 2026 | 20:06 WIB
Anjloknya Harga Udang: Alarm Keras bagi Industri yang Terlalu Percaya Diri

Harga udang anjlok di penghujung 2025. Bagi banyak petambak, ini bukan lagi soal untung-rugi biasa. Nilai jualnya tergerus hingga 30-35 persen. Kolam tetap dipanen, tapi rasanya seperti kerja keras yang tak sebanding dengan hasilnya.

Memang, banyak yang bilang ini cuma efek kelebihan pasokan global atau permintaan ekspor yang lesu. Tapi penjelasan itu terasa dangkal. Ada masalah yang jauh lebih mendasar di balik angka-angka itu: kepercayaan pasar terhadap udang Indonesia mulai goyah. Konsistensi mutu dan jaminan keamanannya dipertanyakan.

Pilar Ekspor yang Rapuh

Jangan salah, udang masih jadi andalan. Indonesia bertengger di lima besar eksportir dunia, dengan nilai ekspor yang sempat bertahan di kisaran USD 1,3 hingga 1,4 miliar. Devisanya besar, lapangan kerjanya luas, dan denyut ekonomi pesisir sangat bergantung padanya.

Namun begitu, ada peringatan yang kerap diabaikan. Sebagaimana diingatkan beberapa ahli, produksi tinggi tak otomatis menjamin daya saing jangka panjang. Industri yang abai terhadap konsistensi mutu dan manajemen risiko, pada akhirnya akan sangat rentan. Guncangan reputasi, sekecil apapun, bisa berdampak besar.

Di sinilah masalahnya. Intensifikasi produksi kita berjalan cepat, tapi sistem penjaminan kesehatan udang dan ketertelusuran rantainya justru tertinggal jauh.

Guncangan dari Sebuah Laporan

Semua jadi runyam setelah sebuah laporan FDA Amerika Serikat beredar di pertengahan 2025. Mereka melaporkan temuan isotop radioaktif Cesium-137 pada satu kiriman udang beku asal Indonesia.

Secara teknis, kadarnya sangat rendah dan dinyatakan aman. Tapi di pasar global, persepsi sering lebih kuat dari fakta ilmiah. Isu keamanan pangan selalu sensitif.

FDA langsung mengeluarkan import alert. Produk ditarik dari rak-rak supermarket dan dimusnahkan. Meski kasusnya terbatas, efeknya seperti domino. Importir jadi ragu-ragu, kontrak ditahan, dan tekanan harga langsung menjalar sampai ke tambak-tambak kecil.

Ini membuktikan satu hal: pasar global sekarang menganut prinsip toleransi nol terhadap risiko reputasi. Satu titik lemah bisa merusak seluruh rantai.

Musuh Lama di Kolam Tambak

Sebenarnya, isu radioaktif itu cuma pemicu. Akar penyakitnya sudah mengendap lama di dalam tambak. Wabah penyakit yang berulang, terutama di sistem budidaya intensif, adalah beban klasik yang belum tuntas.

Ada White Spot Syndrome Virus (WSSV) yang bisa membunuh hampir seluruh populasi dalam hitungan hari. Lalu Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) yang memaksa panen dini karena udang mati sebelum besar.


Halaman:

Komentar