Lalu, bagaimana prospek ke depannya? JPMorgan memperkirakan partisipasi ritel ini akan tetap tinggi setidaknya sampai paruh pertama 2026. Minat spekulatif yang masih kuat dan peran quant funds diduga akan terus menyokong tren ini.
Namun begitu, intensitasnya berpotensi melandai memasuki paruh kedua tahun depan. Semua bergantung pada satu hal: implementasi definisi baru Adjusted Free Float dari MSCI. Aturan baru ini rencananya diumumkan kuartal I-2026 dan mulai berlaku Mei 2026. Perubahan aturan ini bisa jadi titik balik.
Sementara investor ritel masih mendominasi, ada sinyal lain yang muncul. Arus dana dari investor institusi diproyeksikan mulai pulih secara bertahap sepanjang 2026. Penguatan aliran dana ini kemungkinan berasal dari beberapa sumber, seperti mandat investasi publik Danantara, serta alokasi yang meningkat dari dana pensiun dan BPJS Ketenagakerjaan.
Dengan mempertimbangkan semua dinamika ini, JPMorgan memandang 2026 akan jadi tahun penting bagi pasar saham Indonesia. Setelah melewati fase transisi di 2025, tahun depan dianggap sebagai periode penentuan. Mereka menetapkan target IHSG di akhir 2026 pada level 9.100. Dalam skenario paling optimis, indeks bisa menuju 10.000. Sebaliknya, skenario pesimistis membawa target ke level 7.800.
Seperti biasa, semua proyeksi ini hanya panduan. Keputusan investasi akhirnya tetap berada di tangan masing-masing investor.
Artikel Terkait
BEI Tetapkan Harga Teoritis Saham WGSH Rp117 Setelah Saham Bonus 1:1
Analis Peringatkan Rupiah Berpotensi Tembus Rp17.100 per Dolar Pekan Depan
Laba Bersih Indocement Naik 12% Didorong Keuntungan Divestasi
Analis Prediksi Harga Minyak dan Emas Melonjak Akibat Gejolak Timur Tengah