Ia lalu menambahkan, optimisme itu punya dasar. "Mudah-mudahan seperti itu, karena trennya sudah terbentuk seperti itu, dua kuartal berturut-turut sektor manufaktur kita tumbuh di atas PDB nasional."
Ruang Ekspansi Industri Masih Luas
Kalau dilihat lebih dalam, sebenarnya masih ada ruang yang sangat luas untuk berkembang. Menperin membeberkan data menarik: hampir 80 persen, tepatnya 78,39 persen, produk manufaktur kita masih dikonsumsi pasar dalam negeri. Ekspornya? Baru sekitar 21,61 persen.
Artinya, potensi untuk merambah pasar luar masih sangat besar. Namun begitu, tantangannya nyata. Tingkat utilisasi atau keterisian pabrik hingga Oktober 2025 masih di angka 61,2 persen. Menurut Agus, salah satu penghambat utamanya adalah membanjirnya produk impor di berbagai lini.
"Industri manufaktur nasional, hampir 80 persen produknya diserap dalam negeri, hanya 20 persen yang ekspor. Padahal, output manufaktur kita sekitar Rp 8.381 triliun," paparnya.
Agus lalu membandingkan dengan negara lain. "Negara lain mereka fokus ke ekspor karena pasar mereka nggak sebesar Indonesia," tambahnya. Jadi, di satu sisi kita punya pasar domestik yang kuat, tapi di sisi lain, daya saing global masih perlu dikejar.
Artikel Terkait
IHSG Menguat 0,25% di Awal Perdagangan, Mayoritas Sektor Hijau
ERAL dan Mitra Resmikan Perusahaan Patungan untuk Pasar Teknologi Display
Pemerintah Masih Kaji Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi di Tengah Gejolak Minyak Dunia
Menteri Keuangan Ubah Skema Pembiayaan Koperasi Desa, APBN Kini Tanggung Utang