Kalau bicara soal dukungan untuk usaha mikro, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) punya andalan bernama ULaMM atau Unit Layanan Modal Mikro. Layanan ini memang dikhususkan untuk mereka yang bergelut di sektor usaha kecil dan mikro. Tapi, yang menarik, ULaMM ini bukan cuma soal uang pinjaman.
Sejak diluncurkan belasan tahun lalu, tepatnya Agustus 2008, mereka juga menawarkan berbagai dukungan teknis. Mulai dari pelatihan usaha, konsultasi, hingga pendampingan. Bahkan, mereka membantu nasabah mengelola keuangan dan membuka akses pasar yang lebih luas. Yang tak kalah penting, skema pembiayaannya juga tersedia dalam versi syariah.
Nah, ULaMM Syariah inilah yang kemudian jadi produk unggulan PNM. Semua penyaluran dananya berjalan sesuai prinsip syariah, tentu saja dengan berpedoman pada fatwa dari Dewan Syariah Nasional MUI. Komitmen mereka terhadap skema ini ternyata cukup besar.
Menurut data terakhir di penghujung 2024, angka 73 persen dari total pembiayaan PNM ternyata dijalankan lewat akad syariah. Ini dilakukan melalui program Mekaar Syariah dan juga ULaMM Syariah itu sendiri. Angka itu sekaligus jadi bukti bahwa PNM serius ingin menyediakan layanan yang adil, transparan, dan bisa dijangkau semua kalangan, terutama pengusaha ultra mikro.
Prinsip dasarnya jelas: transaksi harus berdasarkan kesepakatan bersama dan bebas dari unsur-unsur seperti riba, judi, atau ketidakjelasan. Intinya, semua harus transparan dan beretika. Untuk transaksi non-tunai, semuanya harus dituangkan dalam perjanjian tertulis sebagai bukti yang sah.
Skema yang umum dipakai adalah akad murabahah, yaitu pembiayaan berbasis jual beli. Di sini, harga barang dan margin keuntungan disepakati di awal antara kedua belah pihak. Cara ini dianggap memberi kenyamanan dan kejelasan bagi nasabah.
Penerapannya di lapangan punya cerita sukses sendiri. Ambil contoh Suwondo, nasabah asal Kopeng, Magelang. Dengan dukungan pembiayaan syariah, pria ini berhasil mengembangkan bisnisnya. Ia punya mini market DD Mart, plus rumah pembibitan dan kebun sayuran organik.
Yang menarik, di rumah pembibitannya itu, Suwondo tak bekerja sendirian. Ia memberdayakan nasabah PNM Mekaar lainnya untuk turut bekerja sebagai petani sayur dan peternak ayam petelur.
Hasil telur dari peternakan itu tak cuma untuk konsumsi keluarga. Telur-telur itu kemudian dijual lagi melalui DD Mart miliknya. Jadilah sebuah ekosistem perdagangan yang sirkular dan saling menguntungkan di sana.
Menurut Lalu Dodot Patria Ary, Sekretaris Perusahaan PNM, kisah Suwondo ini adalah bukti nyata. ULaMM tak sekadar memberi pinjaman, tapi juga mendorong pemberdayaan dan ketahanan pangan yang berkelanjutan.
"Kami berkomitmen untuk terus mendampingi nasabah dan memperluas layanan syariah," ujar Dodot.
Ia menambahkan, "Tujuannya jelas, menciptakan dampak yang lebih luas untuk ekonomi kerakyatan di Indonesia."
Artikel Terkait
Industri Kripto Indonesia Genjot Literasi untuk Tekan Investasi Ikut-ikutan
Kemkomdigi Awasi Sidang Gugatan Rp3,3 Triliun Bali Towerindo ke Pemkab Badung
Harga CPO Catat Pelemahan Mingguan Kedua, Didorong Ekspor Malaysia Turun dan Kekhawatiran China
Saham BUMI Kuasai Pasar dengan Volume 50 Miliar Saham, Kontribusi ke IHSG Capai 17 Poin