Sepanjang 2025, sentimen pasar yang membaik dan prospek kinerja emiten menarik perhatian besar investor asing. Mereka terutama melirik saham-saham berkapitalisasi besar dan emiten pertambangan. Data Bursa Efek Indonesia hingga akhir Desember 2025 pun mengkonfirmasi hal itu.
Di posisi puncak, ada Telkom Indonesia (TLKM). Raksasa telekomunikasi pelat merah itu diborong asing senilai Rp7,14 triliun di pasar reguler. Performa harganya juga sejalan, naik 38,53 persen ke level Rp3.490 per saham.
Namun begitu, prospek jangka pendek TLKM dinilai biasa saja. Samuel Sekuritas dalam riset November lalu justru melihat prospek jangka panjangnya lebih menjanjikan, berkat sejumlah langkah strategis perusahaan.
Mereka memproyeksikan pendapatan TLKM hanya tumbuh tipis, sekitar 2,8 persen jadi Rp152 triliun di 2026. Tekanan masih ada, terutama dari penurunan bisnis lama dan persaingan ketat di fixed broadband.
"Meski demikian, TLKM telah menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat profitabilitas jangka panjang."
Langkah-langkah itu mencakup spin-off Infranexia, mencari investor global untuk bisnis data center, hingga menyederhanakan struktur anak usaha dari 61 menjadi sekitar 19-20 entitas saja.
Posisi kedua diduduki Astra International (ASII). Konglomerasi otomotif dan tambang ini dibeli asing Rp5,87 triliun, dengan harga sahamnya melonjak 46,28 persen.
Fondasinya dinilai solid. DBS Group Research menyoroti kemampuan Astra menghasilkan arus kas bebas yang konsisten. Fondasi kuat itu memberi ruang untuk meningkatkan imbal hasil ke pemegang saham.
Dalam riset awal Desember, DBS menyebut program buyback Rp2 triliun Astra sebagai bukti komitmen manajemen. Mereka juga melihat ruang bagi perusahaan untuk menaikkan rasio dividen. Free cash flow yield yang diproyeksikan mencapai 13-17 persen pada 2025-2027 bisa jadi pendorong utama valuasi.
Di sisi lain, minat asing ternyata sangat kuat juga di sektor pertambangan. Aneka Tambang (ANTM) diborong Rp5,58 triliun, dengan harga sahamnya melesat fantastis 118,22 persen.
Tak kalah panas, Bumi Resources Minerals (BRMS) menyusul dengan net buy Rp5,17 triliun. Sahamnya bahkan meroket 217,92 persen sepanjang tahun.
Lonjakan ini tak lepas dari kenaikan harga emas dunia yang luar biasa. Emas sempat naik sekitar 70 persen tahun ini, menuju kenaikan tahunan terkuat dalam beberapa dekade terakhir.
Amman Mineral Internasional (AMMN) juga masuk dalam daftar borosan asing senilai Rp2,85 triliun, meski harganya masih tertekan. Menurut sejumlah saksi, masuknya BRMS dan AMMN ke dalam indeks VanEck Gold Miners ETF turut jadi katalis menarik dana asing.
Minat investor luar negeri ternyata cukup beragam. Mereka juga menyasar sektor energi terbarukan dan alat berat. Barito Renewables Energy (BREN) dibeli Rp2,84 triliun, sementara United Tractors (UNTR) diborong Rp1,93 triliun.
Dari sektor lain, ada Adaro Andalan Indonesia (AADI) dan Bank Syariah Indonesia (BRIS). Keduanya masing-masing dibeli asing Rp1,87 triliun dan Rp1,51 triliun, meski catatan harga sahamnya masih negatif sepanjang tahun.
Ingat, keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan Anda. Lakukan analisis mendalam sebelum bertindak.
Artikel Terkait
Kemkomdigi Awasi Sidang Gugatan Rp3,3 Triliun Bali Towerindo ke Pemkab Badung
Harga CPO Catat Pelemahan Mingguan Kedua, Didorong Ekspor Malaysia Turun dan Kekhawatiran China
Saham BUMI Kuasai Pasar dengan Volume 50 Miliar Saham, Kontribusi ke IHSG Capai 17 Poin
Harga Minyak Menguat Tipis Didukung Data Inflasi AS yang Lebih Lunak