Selasa kemarin (30/12), satu berita cukup mencuri perhatian: Direktorat Jenderal Pajak mencabut status Amazon Services Europe sebagai pemungut pajak untuk transaksi digital atau PPN PMSE. Kabar ini ramai diperbincangkan, bersanding dengan sentimen positif di pasar modal yang menutup tahun 2025 dengan catatan hijau.
IHSG sendiri ditutup menguat tipis di level 8.646,938. Naiknya cuma 0,03 persen sih, tapi yang menarik, aktivitas perdagangannya cukup sibuk. Transaksi nyaris 2,6 juta kali dengan nilai fantastis, sekitar Rp 20 triliun.
Alasan Pencabutan Status Amazon
Lantas, kenapa Amazon dicoret dari daftar pemungut pajak? Intinya, perusahaan dinilai sudah tak lagi memenuhi syarat yang ditetapkan pemerintah. Pencabutan resmi berlaku mulai 3 November 2025 lalu.
Rosmauli, Dirjen Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP, menjelaskan lebih lanjut.
“Pencabutan status Amazon Services Europe S.a.r.l. sebagai pemungut PPN PMSE dilakukan karena yang bersangkutan tidak lagi memenuhi kriteria yang telah ditentukan,” jelasnya dalam keterangan tertulis Rabu (31/12).
Di sisi lain, DJP tak hanya mencabut. Mereka juga menunjuk pemungut baru. Salah satu yang menarik adalah OpenAI OpCo, LLC. Penunjukannya berdasarkan Surat Keputusan DJP yang juga terbit tanggal 3 November. Nantinya, perusahaan ini akan beroperasi dengan merek OpenAI dan ChatGPT untuk kegiatan perdagangan digitalnya.
Pergerakan Saham di Penutupan Tahun
Kembali ke bursa, meski IHSG naik, indeks LQ45 justru melemah 0,64 persen ke level 846,57. Pergerakan saham terbilang beragam. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 346 menguat, 317 melemah, dan 146 lainnya stagnan atau flat.
Ada beberapa saham yang jadi penyumbang kenaikan atau top gainers. PP Presisi (PPRE) melonjak 25,36 persen ke 173. Royaltama Mulia Kontraktorindo (RMKO) juga naik kuat 24,73 persen ke 464. Lalu ada Polychem Indonesia (ADMG) yang menguat 21,55 persen, disusul RMK Energy (RMKE) dan Nusantara Berkah (NTBK) dengan kenaikan masing-masing di atas 17 persen.
Begitulah suasana di hari terakhir perdagangan 2025. Pasar saham masih hangat, sementara dunia perpajakan digital mengalami pergeseran dengan masuknya pemain baru dan keluarnya yang lama.
Artikel Terkait
Industri Kripto Indonesia Genjot Literasi untuk Tekan Investasi Ikut-ikutan
Kemkomdigi Awasi Sidang Gugatan Rp3,3 Triliun Bali Towerindo ke Pemkab Badung
Harga CPO Catat Pelemahan Mingguan Kedua, Didorong Ekspor Malaysia Turun dan Kekhawatiran China
Saham BUMI Kuasai Pasar dengan Volume 50 Miliar Saham, Kontribusi ke IHSG Capai 17 Poin