Pasar Otomotif Lesu, Tapi Emiten Ini Justru Tumbuh Pesat

- Minggu, 28 Desember 2025 | 16:40 WIB
Pasar Otomotif Lesu, Tapi Emiten Ini Justru Tumbuh Pesat

Tahun 2025 belum benar-benar menjadi tahun kebangkitan untuk pasar otomotif dalam negeri. Daya beli yang masih terbatas membuat penjualan kendaraan terasa berat, belum pulih seperti yang diharapkan banyak pihak.

Data dari Gaikindo sampai November 2025 menunjukkan gambaran yang cukup jelas: penjualan mobil secara wholesales baru mencapai 710.084 unit. Angka itu turun hampir 10 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Suram? Bisa dibilang begitu.

Di tengah kondisi itu, mobil listrik justru menunjukkan taringnya. Pangsa pasarnya sudah nyaris menyentuh 12 persen, dengan distribusi ke dealer tembus 82 ribu unit lebih. Sementara untuk kendaraan hybrid (HEV), penjualan menembus 57 ribu unit dengan panggung yang masih dikuasai Toyota dan Suzuki.

Lantas, bagaimana dengan kinerja perusahaan-perusahaan otomotif di bursa? Ternyata, ceritanya beragam. Ada yang bertahan, ada pula yang justru tumbuh meski situasi pasar tak terlalu bersahabat.

Raksasa seperti PT Astra International Tbk (ASII) misalnya, menunjukkan ketahanan yang patut diacungi jempol. Meski pendapatan dan laba bersihnya sedikit terkoreksi, posisinya tetap kokoh. Hingga September 2025, laba bersih grup ini Rp24,47 triliun.

Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro, mengakui bahwa kinerja grup sempat terpengaruh harga batu bara yang lebih rendah.

"Namun, hal itu sebagian diimbangi oleh bisnis pertambangan emas, agribisnis, dan jasa keuangan. Sementara segmen otomotif cenderung stabil," ujarnya.

Memang, segmen otomotif Astra masih menyumbang laba bersih Rp8,8 triliun, naik tipis 1 persen. Kontribusi terbesar datang dari bisnis sepeda motor dan komponen, sementara penjualan mobilnya ikut melemah mengikuti pasar.

Di sisi lain, PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) justru mencatat pertumbuhan yang cukup baik. Pendapatan bersihnya naik 4,6 persen menjadi Rp22,72 triliun, didorong penjualan mobil dan motor. Yang menarik, laba yang diatribusikan ke induk perusahaan melonjak drastis 216 persen!

Kalau kita lihat ke perusahaan komponen, ceritanya malah lebih menarik. Beberapa emiten justru berhasil mencatatkan kinerja positif. PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) salah satunya. Laba bersihnya naik 2,6 persen jadi Rp1,6 triliun, dengan pendapatan mencapai Rp14,80 triliun.

Pencapaian ini tak lepas dari permintaan komponen dari pelanggan OEM, baik untuk roda dua maupun empat. Mereka juga tak diam saja, portofolio bisnis diperlebar ke alat kesehatan dan komponen alat berat.

Kisah serupa datang dari PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA). Pendapatannya naik 9,2 persen menjadi Rp4,39 triliun. Perusahaan ini juga sedang gencar melakukan diversifikasi, salah satunya dengan mengembangkan produk aki lithium dan sistem penyimpanan energi.

Tak ketinggalan, PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT) juga merasakan angin segar. Penjualannya melonjak 13,63 persen menjadi Rp1,25 triliun, dengan laba bersih yang bahkan meroket 63 persen! Pasar dalam negeri masih menjadi tulang punggung utama mereka.

Ada fenomena unik di tengah lesunya penjualan mobil baru: bisnis mobil bekas justru menggeliat. PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) merasakan dampaknya. Pendapatan mereka naik 15 persen berkat transaksi di platform seperti Caroline.id dan JBA Indonesia.

Sayangnya, laba bersihnya justru turun 25,5 persen. Biaya pokok penjualan yang membengkak menjadi biang keroknya.

Sementara itu, di pasar roda dua yang cenderung stagnan, PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) merasakan tekanan. Pendapatan dan laba bersih distributor Honda ini sama-sama terkoreksi, terdampak langsung oleh penjualan sepeda motor yang menurun.

Jadi, kesimpulannya? Meski pasar domestik masih lesu, ketahanan dan adaptasi menjadi kunci. Beberapa perusahaan berhasil menemukan celah, baik lewat diversifikasi, ekspansi ke segmen lain, atau efisiensi. Tahun depan, pertarungannya pasti akan semakin seru.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar