Tongkang Raksasa ALII Terseok, Volume Angkut Anjlok Lebih dari 50%

- Minggu, 28 Desember 2025 | 14:00 WIB
Tongkang Raksasa ALII Terseok, Volume Angkut Anjlok Lebih dari 50%

Hingga September 2025, volume angkutan PT Ancara Logistics Indonesia (ALII) untuk tongkang berukuran 300 feet anjlok cukup dalam. Perusahaan mencatat angkanya hanya 942.000 metrik ton, turun lebih dari 50% dibanding realisasi tahun sebelumnya yang mencapai 1,98 juta MT. Penurunan ini, rupanya, tak lepas dari gejolak yang terjadi di panggung global.

Menurut Direktur ALII, Rahul Nalin Rathod, dinamika dunia saat ini benar-benar menekan aktivitas ekspor batu bara. Persaingan ketat antara Amerika Serikat dan China, misalnya, ikut memengaruhi arus komoditas ini ke dua pasar raksasa: China dan India.

"Penurunan permintaan dari kedua negara itu berdampak langsung pada utilisasi tongkang 300 feet kami, yang selama ini banyak mengandalkan ekspor," jelas Rahul.

Namun begitu, faktor eksternal bukan satu-satunya penyebab. Pola permintaan dari pelanggan utama perusahaan juga berubah. Sepanjang tahun ini, dua klien besar ALII PT Ade Putra Tanrajeng dan PT Guruh Putra Bersama lebih fokus melayani pasar dalam negeri.

Rahul menyebutkan, keputusan ini didorong oleh kondisi bisnis yang belum sepenuhnya stabil. Di sisi lain, harga jual di pasar domestik ternyata cukup menarik jika dibandingkan dengan ekspor.

Lalu, bagaimana prospek ke depannya? Manajemen ALII ternyata masih optimis. Mereka memproyeksikan pemulihan volume angkutan pada 2026. Rahul yakin pendapatan dari layanan tongkang, baik ukuran 180 feet maupun 300 feet, akan meningkat. Keyakinan ini sejalan dengan rencana kenaikan produksi dari kedua pelanggan utama tadi, plus penyesuaian strategi bisnis perusahaan.

Untuk mendukung target itu, ALII sudah menyiapkan langkah konkret. Salah satunya adalah rencana penambahan fasilitas Intermediate Stockpile (ISP) baru. Saat ini perusahaan memang sudah punya, tapi penambahan ini diharapkan bisa bikin operasional lebih fleksibel. Alhasil, tingkat keterisian armada, termasuk untuk tongkang berkapasitas besar, bisa lebih baik.

Yang menarik, di tengah tekanan volume, kinerja keuangan ALII ternyata cukup stabil. Per September 2025, perusahaan mencatat EBITDA Rp379 miliar. Angka ini relatif tak jauh beda dengan capaian akhir 2024 sebesar Rp385 miliar. Manajemen bahkan meyakini, hingga penutupan tahun 2025, EBITDA berpotensi naik dibanding tahun sebelumnya.

"Secara keseluruhan, kinerja perseroan pada 2025 tetap positif. Meski ada tekanan di sektor pengangkutan tongkang besar, kami masih berada di jalur yang tepat," pungkas Rahul.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar