ALII: Batu Bara Tetap Jadi Andalan hingga 2026, Diversifikasi Masih Digodok

- Minggu, 28 Desember 2025 | 12:15 WIB
ALII: Batu Bara Tetap Jadi Andalan hingga 2026, Diversifikasi Masih Digodok

Batu bara masih akan jadi tulang punggung bisnis PT Ancara Logistics Indonesia (ALII) hingga tahun 2026. Hal ini diungkapkan langsung oleh Direktur perusahaan, Rahul Nalin Rathod, dalam paparan Public Expose yang digelar Kamis lalu. Alasan utamanya sederhana: permintaan dari dua klien inti mereka tetap tinggi, dan itu yang bakal mengerek kinerja perseroan ke depan.

"Permintaan dari dua pelanggan utama kami masih menjadi motor pertumbuhan di 2026," jelas Rahul.

Dia melanjutkan, "Seiring peningkatan produksi mereka, kebutuhan jasa logistik batubara juga akan meningkat."

Jadi, bukan cuma omongan kosong. Volume produksi diperkirakan bakal naik dalam beberapa waktu mendatang, sejalan dengan kebutuhan kedua klien besar itu.

Namun begitu, manajemen sebenarnya tak menutup mata. Di sisi lain, mereka juga sedang mengincar peluang lain. Diversifikasi ke komoditas non-batubara seperti bauksit, nikel, atau mineral cair masih terus digodok. Itu jadi bagian dari strategi jangka panjang mereka.

“Upaya diversifikasi masih terus diupayakan,” tutur Rahul. “Manajemen aktif melakukan penjajakan dengan berbagai pihak agar pergerakan ke arah diversifikasi dapat terealisasi lebih cepat.”

Tapi ya, jalan utamanya untuk saat ini tetap batu bara. Dan di sektor ini, volatilitas harga adalah hal yang biasa. ALII sendiri sadar betul, tarif angkutan mereka erat kaitannya dengan naik-turunnya harga komoditas hitam itu. Artinya, tekanan harga bisa langsung bikin pendapatan ciut.

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Menurut Rahul, kuncinya ada di pengelolaan biaya. Strategi "better cost management" mereka anggap sebagai tameng utama untuk menjaga margin, biar pun kondisi pasar atau makroekonomi sedang sulit.

“Dengan pengelolaan biaya yang optimal, perseroan masih memiliki ruang untuk melakukan improvisasi ketika bisnis batubara atau perekonomian global sedang tertekan,” katanya.

Nah, yang menarik adalah pandangan mereka tentang isu transisi energi. Di tengah gencarnya kampanye hijau dan dekarbonisasi global, ALII justru melihat batu bara masih punya peran strategis. Terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Data dari Kementerian ESDM pun seolah mendukung: sekitar 60-70 persen pembangkit listrik nasional masih bergantung pada batu bara. Fenomena serupa terlihat di raksasa seperti China dan India, di mana PLTU masih jadi andalan.

“Dalam pandangan manajemen, dalam 20 tahun ke depan batubara masih akan menjadi komoditas yang menarik dan menjanjikan di Indonesia,” tegas Rahul.

Dia bahkan melihat ada pergeseran sikap global. Tekanan terkait dekarbonisasi dinilai mulai lebih realistis. Beberapa kebijakan terbaru, misalnya penangguhan proyek pembangkit listrik tenaga angin di AS, dianggapnya sebagai cermin perubahan pendekatan.

“Melihat dinamika tersebut, kami menilai tekanan persyaratan energi hijau tidak lagi sebesar sebelumnya,” ujar Rahul.

“Ke depan akan ada pendekatan yang lebih pragmatis, khususnya di negara-negara berkembang.”

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar