Investor Asing Borong Saham dan SRBI, Tapi Lari dari SBN di Akhir 2025

- Minggu, 28 Desember 2025 | 09:36 WIB
Investor Asing Borong Saham dan SRBI, Tapi Lari dari SBN di Akhir 2025

Pada pekan terakhir Desember 2025, pasar keuangan kita kedatangan tamu. Aliran modal asing masuk dengan nilai yang cukup signifikan, yakni Rp 3,98 triliun. Ini terjadi saat aktivitas transaksi investor global di berbagai instrumen keuangan Indonesia sedang berlangsung.

Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, membeberkan rinciannya. Data transaksi periode 22 hingga 23 Desember menunjukkan, investor nonresiden atau asing melakukan aksi beli bersih di dua tempat.

“Terdiri dari beli neto sebesar Rp 1,59 triliun di pasar saham dan Rp 740 miliar di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI),”

kata Denny dalam keterangannya yang dikutip Minggu (28/12).

Namun begitu, ceritanya berbeda di pasar surat berharga negara (SBN). Di sana, justru terjadi aksi jual bersih oleh investor asing dengan nilai yang tak kecil, mencapai Rp 1,66 triliun. Meski ada penjualan di SBN, Denny melihat sisi positifnya. Menurutnya, arus masuk modal ini tetap memberi dampak baik terhadap persepsi risiko investasi di Indonesia.

Indikasinya bisa dilihat dari angka credit default swap atau CDS Indonesia untuk tenor 5 tahun. Angka itu turun. Per 23 Desember, CDS tercatat 67,99 basis poin, lebih rendah dibanding posisi 18 Desember yang masih di level 69,80 bps.

Kalau kita lihat perjalanan sepanjang tahun 2025, ceritanya agak lain. Data kumulatif hingga 23 Desember menunjukkan, investor nonresiden masih mencatatkan jual bersih secara keseluruhan. Rinciannya cukup bervariasi: jual neto Rp 21,08 triliun di pasar saham, lalu Rp 440 miliar di pasar SBN, dan yang cukup besar di SRBI mencapai Rp 110,75 triliun.

Menanggapi dinamika ini, Denny menegaskan komitmen Bank Indonesia. Mereka tak akan berhenti memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait lainnya.

“Serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,”

pungkasnya. Tujuannya jelas, menjaga stabilitas ekonomi nasional agar tetap solid di tengah arus modal yang datang dan pergi.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar