Ia menjelaskan, dorongan permintaan musim perayaan sudah mulai terasa. Itulah yang mendongkrak angka-angka tersebut.
Di sisi lain, prospek ke depan tampaknya masih cerah. Permintaan yang biasanya menggelembung jelang Tahun Baru Imlek dan Ramadan di awal 2026 diperkirakan akan terus mendorong harga. Namun begitu, ada satu faktor yang bisa jadi penghalang: penguatan nilai Ringgit.
Mata uang Malaysia itu sedang dalam tren kuat, bahkan berpotensi mencapai level tertingginya dalam lebih dari empat setengah tahun. Untuk pembeli dari luar negeri, situasi ini kurang menguntungkan. Harga komoditas tropis seperti sawit jadi terasa lebih mahal ketika mata uang lokal menguat. Jadi, meski permintaan tinggi, daya tariknya agak terkikis. Seru juga melihat tarik-ulur antara dua kekuatan pasar ini.
Artikel Terkait
Wall Street Menguat Didorong Sinyal Damai Trump untuk Konflik Iran
Fore Kopi Indonesia Catat Laba Bersih Rp90 Miliar, Naik 55% pada 2025
Pemerintah Resmi Terapkan WFH Setiap Jumat untuk ASN Mulai April 2026
Semen Baturaja Catat Kenaikan Pendapatan dan Laba Bersih di 2025