Pasar Asia Tutup Tahun dengan Saham dan Emas Cetak Rekor Baru

- Jumat, 26 Desember 2025 | 15:36 WIB
Pasar Asia Tutup Tahun dengan Saham dan Emas Cetak Rekor Baru

Sentimen akhir tahun ternyata cukup manis bagi pasar Asia. Di hari perdagangan Jumat (26/12), saham-saham di kawasan ini meroket ke level tertingginya dalam enam pekan terakhir. Tak cuma saham, logam mulia pun ikut berpesta. Emas dan perak bahkan mencatatkan rekor baru, dimudahkan oleh dolar AS yang terus melemah.

Likuiditas sebenarnya tipis. Banyak bursa tutup, seperti di Australia dan Hong Kong. Tapi rupanya, itu tak menghentikan investor untuk menutup tahun dengan optimisme.

Di Jepang, Indeks Topix berhasil mencetak rekor tertinggi baru dengan kenaikan 0,5 persen. Sementara di Korea Selatan, KOSPI menguat 0,6 persen. Performa KOSPI sepanjang tahun ini benar-benar fantastis, melonjak 72 persen dan menjadikannya pasar saham utama dengan kinerja terbaik di dunia tahun ini. Sungguh luar biasa.

China juga tak ketinggalan. Indeks CSI300 naik 0,27 persen, mengukuhkan penguatan tahunan sebesar 18 persen. Itu adalah lonjakan tahunan terkuat yang mereka raih sejak 2020.

Karena kinerja positif dari berbagai negara tadi, indeks MSCI Asia Pasifik (di luar Jepang) terdorong ke level tertinggi sejak pertengahan November. Indeks itu naik 0,4 persen dan telah menguat sekitar seperempat sepanjang 2024.

Namun begitu, sorotan juga tertuju ke komoditas yang berkilau. Harga perak spot melesat lebih dari 4 persen dan memecahkan rekor. Emas pun tak mau kalah, menyentuh level tertinggi sepanjang masa di angka USD 4.503,39 per ons.

Lalu, apa yang mendorong reli ini? Menurut Soojin Kim, analis komoditas MUFG, ada beberapa faktor kunci.

"Pembelian besar-besaran oleh bank sentral jadi pendorong utama. Ditambah lagi, arus masuk dana ke ETF emas sangat kuat," ujar Kim.

Ia menambahkan, kekhawatiran investor terhadap melemahnya nilai mata uang dan membengkaknya utang global turut menambah daya tarik logam mulia sebagai safe haven.

"Dengan proyeksi sejumlah bank besar yang memperkirakan kenaikan berlanjut hingga 2026, kuatnya permintaan fisik serta ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter menunjukkan reli logam mulia masih berpotensi berlanjut," jelasnya lewat catatan analisis.

Angkanya memang mencengangkan. Sepanjang tahun, harga emas telah naik lebih dari 71 persen kenaikan tahunan tertinggi sejak 1979. Perak? Lebih gila lagi, melesat hingga 158 persen.

Memasuki tahun baru, semua mata kini beralih ke arah kebijakan suku bunga AS. Pasar memprediksi The Fed akan memangkas suku bunga setidaknya dua kali di tahun 2026, meski langkah itu diperkirakan baru terjadi setelah Juni nanti.

Dampaknya, tekanan terhadap dolar AS berlanjut. Indeks dolar merosot 0,8 persen, terlemah sejak Juli. Di perdagangan Asia, indeks itu coba stabil di sekitar 97,935.

Di sisi lain, yen Jepang sedikit melemah ke posisi 156,23 per dolar. Tapi secara mingguan, mata uang ini masih menguat sekitar 1 persen penguatan terbesarnya sejak akhir September. Peringatan verbal dari otoritas Jepang rupanya memicu spekulasi intervensi, meski Bank of Japan baru saja menaikkan suku bunga pekan lalu. Situasi yang cukup menarik untuk diamati ke depannya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar