Rebalancing Indeks MSCI Picu Arus Keluar Dana Asing Rp9,5 Triliun dari BEI dalam Sepekan

- Sabtu, 30 Mei 2026 | 09:40 WIB
Rebalancing Indeks MSCI Picu Arus Keluar Dana Asing Rp9,5 Triliun dari BEI dalam Sepekan

Efektifnya penyesuaian portofolio indeks MSCI pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu memicu arus keluar dana asing yang deras dari sejumlah saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang sepekan terakhir. Manajer investasi global dan dana berbasis exchange traded fund (ETF) yang mengacu pada indeks MSCI melakukan penyesuaian portofolio secara besar-besaran, terutama terhadap emiten yang dikeluarkan dari indeks tersebut.

Data BEI mencatat, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) milik konglomerat Prajogo Pangestu menjadi saham dengan net sell asing terbesar dalam sepekan, mencapai Rp2,44 triliun. Akibat tekanan jual tersebut, harga saham TPIA terkoreksi 10,75 persen ke level Rp1.785 per unit. Di posisi berikutnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat net sell asing Rp2,24 triliun, dengan harga saham yang melemah 3,39 persen ke Rp5.700 per unit.

Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga mengalami arus keluar dana asing yang signifikan, mencapai Rp1,99 triliun. Namun, berbeda dengan TPIA dan BBCA, saham AMMN justru melonjak 13,79 persen dalam sepekan ke level Rp3.300 per unit. Tekanan jual juga terasa di sektor perbankan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat net sell asing Rp855,37 miliar, diikuti pelemahan harga 3,28 persen ke Rp2.950 per unit. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga tak luput, dengan net sell Rp813,26 miliar dan penurunan 0,97 persen ke Rp4.080 per unit.

Aksi jual asing turut menyasar PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dengan net sell Rp635,46 miliar. Saham AMRT menjadi yang paling dalam koreksinya di antara daftar tersebut, yakni anjlok 19,30 persen dalam sepekan ke level Rp1.150 per unit. Di sisi lain, sejumlah saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI justru mencatatkan kenaikan harga meskipun dibayangi arus keluar dana asing. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) membukukan net sell Rp532,07 miliar, namun sahamnya melesat 34,69 persen ke Rp3.300 per saham. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga mencatat net sell Rp266,64 miliar, tetapi harga sahamnya naik 22,33 persen menjadi Rp630 per saham. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mengalami net sell Rp235,46 miliar dengan kenaikan harga 20,87 persen ke Rp1.940 per saham.

Namun, tidak semua saham bernasib sama. PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) mencatat net sell Rp373,80 miliar dan turun 6,15 persen ke Rp2.900 per saham. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga mengalami net sell Rp340,72 miliar dengan pelemahan 9,72 persen ke Rp492 per saham. Menurut analis Phintraco Sekuritas, efektifnya rebalancing indeks MSCI pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu mendorong penyesuaian portofolio investor global yang mengikuti indeks tersebut. Kondisi ini memicu tekanan jual yang cukup besar, terutama pada saham-saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index.

Phintraco mencatat, saham yang keluar dari MSCI Global Standard Index meliputi AMMN, BREN, TPIA, CUAN, dan DSSA. Sementara itu, AMRT turun kelas dari MSCI Global Standard Index ke MSCI Small Cap Index. Selain itu, ANTM termasuk dalam daftar saham yang dikeluarkan dari MSCI Small Cap Index bersama sejumlah emiten lain seperti AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG. Adapun derasnya arus keluar dana asing pada saham-saham bank besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI diduga berkaitan dengan penyesuaian bobot (downweight) dalam indeks MSCI.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri ditutup melemah tipis 0,05 persen ke level 6.127,38 pada perdagangan Jumat pekan lalu, setelah sempat menguat hingga menyentuh 6.230. Menurut Phintraco Sekuritas, koreksi pasar dinilai relatif terbatas meskipun terdapat tekanan jual pada sejumlah saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI. Bahkan, beberapa saham terkait justru masih mencatatkan kenaikan, mengindikasikan bahwa pelaku pasar telah lebih dulu mengantisipasi rebalancing indeks tersebut.

Sentimen positif juga datang dari penguatan mayoritas bursa Asia yang ditopang kenaikan saham-saham teknologi di Wall Street. Optimisme tersebut mampu meredam kekhawatiran pasar terhadap meningkatnya kembali ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, pelemahan harga minyak mentah turut memberikan dukungan bagi pergerakan pasar saham. Di sisi lain, nilai tukar rupiah melanjutkan pelemahannya dan ditutup di level Rp17.881 per dolar AS di pasar spot, menjadi posisi terendah pada Jumat pekan lalu. Secara sektoral, saham-saham kesehatan mencatat koreksi terdalam dengan penurunan 1,49 persen, sementara sektor infrastruktur menjadi penopang utama indeks setelah menguat 2,89 persen.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar